Dunia digital hari ini bukan lagi sekadar alat bantu komunikasi, melainkan telah menjelma menjadi ekosistem utama tempat Generasi Z tumbuh dan merumuskan identitas mereka. Dalam riuh rendah jagat maya, informasi keagamaan mengalir tanpa bendungan, menyajikan ribuan fatwa dan nasihat hanya dalam satu ketukan jari. Namun, kelimpahan informasi ini membawa paradoks yang mencemaskan. Tantangan dakwah hari ini bukan lagi tentang bagaimana menyebarkan pesan Islam ke ruang publik, melainkan bagaimana menjaga agar pesan yang suci tersebut tidak kehilangan ruh spiritualitas dan kedalaman maknanya di tengah pusaran algoritma yang cenderung dangkal dan instan.

Generasi Z kerap kali terjebak dalam ilusi pengetahuan keagamaan. Mereka mengonsumsi cuplikan video berdurasi tiga puluh detik di media sosial dan merasa telah memahami hukum fikih yang kompleks secara menyeluruh. Akibatnya, otoritas keilmuan tradisional yang dibangun lewat tradisi mulia talaqqi dan sanad keilmuan yang jelas mulai

Dalam Artikel