Era digital telah mengubah lanskap penyebaran informasi keagamaan secara radikal. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital (digital natives), kini mengonsumsi konten keagamaan bukan lagi lewat majelis taklim konvensional atau lembaran kitab kuning di pesantren, melainkan melalui layar gawai yang serba cepat. Fenomena ini menghadirkan peluang dakwah yang luar biasa luas, namun di saat yang sama membawa tantangan eksistensial yang tidak ringan. Kemudahan akses informasi sering kali tidak berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman, melahirkan generasi yang akrab dengan jargon-jargon agama tetapi asing dengan metodologi berpikir yang runtut.
Salah satu tantangan terbesar dakwah digital hari ini adalah dekonstruksi otoritas keagamaan. Di jagat maya, algoritma media sosial lebih memihak pada konten yang sensasional, visual yang memikat, dan retorika yang memicu emosi, ketimbang kedalaman ilmu dan kesalehan personal. Akibatnya, muncul fenomena pendakwah instan yang minim san

