Dewasa ini, ruang publik kita sering kali riuh oleh silang pendapat yang tak jarang berakhir pada caci maki. Fenomena ini seolah menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk berdialog telah tergerus oleh ego dan fanatisme buta. Padahal, Islam memandang perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan sejarah dan sunnatullah yang seharusnya menjadi rahmat, bukan laknat. Sebagai umat yang mengaku mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW, kita dituntut untuk meletakkan akhlak di atas segalanya, bahkan ketika kita merasa berada di pihak yang benar secara argumen.

Dalam menyampaikan kebenaran atau menyanggah pendapat yang dianggap keliru, Al-Quran telah memberikan panduan metodologis yang sangat elegan. Kita diperintahkan untuk mengedepankan hikmah dan tutur kata yang baik, bukan provokasi yang memicu perpecahan. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

Dalam Artikel

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Ayat ini menegaskan bahwa substansi argumen tidak boleh mengabaikan estetika komunikasi. Diskusi yang dilakukan dengan cara yang kasar hanya akan melahirkan resistensi, bukan kesadaran.

Persoalan utama dalam perbedaan pendapat sering kali bukan terletak pada substansi masalahnya, melainkan pada penyakit hati yang menyertainya, yaitu kesombongan. Seseorang yang merasa memiliki otoritas kebenaran mutlak cenderung merendahkan orang lain yang berbeda pandangan. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita tentang hakikat kesombongan dalam sebuah hadis:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya: Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Ketika kita berdiskusi dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan bicara atau mempermalukannya di depan umum, saat itulah kita telah terjatuh dalam lubang kesombongan yang dilarang oleh agama. Akhlakul karimah menuntut kita untuk tetap menghargai martabat kemanusiaan lawan bicara kita.

Sejarah para ulama salaf memberikan keteladanan luar biasa dalam mengelola perbedaan. Imam Syafii, misalnya, pernah berkata bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu atau rendah hati seperti inilah yang hilang dari perdebatan kita hari ini. Kita terlalu sering merasa menjadi "tuhan kecil" yang berhak menghakimi iman dan niat orang lain, padahal urusan hati adalah wilayah privasi antara hamba dengan Sang Pencipta.

Kekerasan verbal di media sosial sering kali menjadi pemicu keretakan sosial yang lebih luas. Fitnah, ghibah, dan tajassus (mencari-cari kesalahan) menjadi bumbu dalam setiap perdebatan yang tidak dilandasi akhlak. Kita perlu merenungkan kembali larangan Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 yang memperingatkan kita agar tidak saling mengolok-olok: