Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang mengarahkan seorang hamba untuk mengenal Penciptanya secara benar dan proporsional. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya melalui madrasah Al-Asya'irah dan Al-Maturidiyah, pemahaman mengenai hakikat ketuhanan disusun secara sistematis melalui klasifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal (aqli) tidak mungkin tidak ada pada zat Allah. Pendekatan ini menggabungkan antara dalil naqli yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits dengan dalil aqli yang logis dan argumentatif. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan teologis, melainkan sebuah upaya epistemologis untuk membersihkan persepsi manusia dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadakan sifat).

الْوُجُوْدُ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُوْدٌ لَا بِإِيْجَادِ مُوْجِدٍ، بَلْ وُجُوْدُهُ ذَاتِيٌّ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا. وَالدَّلِيْلُ عَلَى ذَلِكَ حُدُوْثُ الْعَالَمِ، فَإِنَّ كُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ، وَهَذَا الْمُحْدِثُ هُوَ اللهُ الْوَاجِبُ الْوُجُوْدِ الَّذِي لَيْسَ لِوُجُوْدِهِ ابْتِدَاءٌ وَلَا لِبَقَائِهِ انْتِهَاءٌ.

Dalam Artikel

Sifat yang pertama adalah Al-Wujud (Ada). Dalam sistematika ilmu akidah, Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna di luar zat tersebut. Secara filosofis, Allah adalah Wajib al-Wujud (Eksistensi yang niscaya). Keberadaan alam semesta yang bersifat mungkin (mungkinul wujud) menjadi bukti rasional yang paling kuat; sebab secara logika, sesuatu yang baru (hadits) mustahil muncul tanpa adanya pencipta (muhdits). Penegasan wujud Allah ini meruntuhkan argumentasi nihilisme dan ateisme, karena akal yang sehat akan menyimpulkan bahwa keteraturan kosmos ini mustahil terjadi secara kebetulan tanpa adanya Zat yang Maha Ada.

الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، فَالْقِدَمُ هُوَ عَدَمُ الِافْتِتَاحِ لِلْوُجُوْدِ، وَالْبَقَاءُ هُوَ عَدَمُ الِاخْتِتَامِ لَهُ. وَهُمَا مِنْ صِفَاتِ السَّلْبِيَّةِ الَّتِي تَسْلِبُ عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ، كَالْحُدُوْثِ وَالْفَنَاءِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ. فَالْأَوَّلُ بِلَا ابْتِدَاءٍ وَالْآخِرُ بِلَا انْتِهَاءٍ، وَكُلُّ مَا سِوَاهُ فَإِنَّهُ حَادِثٌ قَابِلٌ لِلْعَدَمِ بَعْدَ الْوُجُوْدِ.

Selanjutnya adalah sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa (Kekal). Kedua sifat ini masuk dalam kategori Sifat Salbiyyah, yakni sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Qidam meniadakan sifat baru (huduts), yang berarti Allah tidak didahului oleh ketiadaan. Sementara Baqa meniadakan kepunahan (fana), yang berarti Allah tidak akan pernah berakhir. Berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 3, Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Secara ontologis, jika Allah memiliki titik awal, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan ini akan menyebabkan tasalsul (mata rantai tanpa ujung) yang mustahil secara akal. Maka, keazalian dan keabadian Allah adalah mutlak dan tidak terikat oleh dimensi waktu yang merupakan makhluk ciptaan-Nya.

مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، أَيْ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. فَلَا جِرْمَ لَهُ وَلَا عَرَضَ، وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ، لِأَنَّ الْمَكَانَ وَالزَّمَانَ مَخْلُوْقَانِ، وَالْخَالِقُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَخْلُوْقِهِ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ.

Sifat Mukhalafatuhu lil Hawadits (Berbeda dengan makhluk) merupakan pilar penting dalam menjaga kemurnian tauhid dari paham antropomorfisme (tajsim). Sifat ini menegaskan bahwa Allah tidak menyerupai apa pun dari makhluk-Nya, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan. Penjelasan ini didasarkan pada Surah Asy-Syura ayat 11. Implikasi dari sifat ini adalah Allah tidak memiliki bentuk fisik (jirm), tidak membutuhkan ruang (makan), dan tidak terikat oleh waktu (zaman). Sebab, ruang dan waktu adalah entitas yang terbatas dan diciptakan, sedangkan Sang Pencipta tidak mungkin bergantung pada ciptaan-Nya. Segala gambaran yang terlintas dalam benak manusia tentang bentuk Allah, maka Allah dipastikan tidak seperti gambaran tersebut (kullu ma khathara bi balika fallahu khilafu dhalik).

الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ، فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَتَأَتَّى بِهَا إِيْجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ. فَكُلُّ مَا فِي الْكَوْنِ مِنْ حَرَكَةٍ أَوْ سُكُوْنٍ، أَوْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، فَهُوَ كَائِنٌ بِقُدْرَةِ اللهِ وَإِرَادَتِهِ، لَا رَادَّ لِقَضَائِهِ وَلَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ.

Memasuki kategori Sifat Ma'ani, kita mengenal Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak). Qudrah adalah sifat azali yang melekat pada zat Allah yang dengannya Allah menciptakan atau meniadakan segala sesuatu yang bersifat mungkin (mungkinat). Sedangkan Iradah adalah sifat yang menentukan atau mengkhususkan (takhshish) segala sesuatu tersebut sesuai dengan pilihan-Nya. Keterkaitan antara keduanya menciptakan harmoni penciptaan. Tidak ada satu zarah pun di alam semesta ini yang bergerak atau diam melainkan atas kehendak dan kuasa Allah. Hal ini mengajarkan manusia tentang konsep tawakal yang absolut, bahwa segala otoritas tertinggi berada di tangan Allah, sementara manusia hanya memiliki usaha (kasb) yang tidak menciptakan pengaruh secara hakiki tanpa izin-Nya.