Eksistensi doa dalam epistemologi Islam bukan sekadar permohonan linear antara makhluk dan Khalik, melainkan merupakan inti sari dari penghambaan itu sendiri. Secara ontologis, doa mencerminkan kefakiran mutlak seorang hamba di hadapan kekayaan mutlak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, dalam skema syariat, efektivitas sebuah doa tidak hanya bergantung pada keikhlasan subjek yang berdoa, tetapi juga dipengaruhi oleh variabel eksternal yang telah ditetapkan oleh Allah, salah satunya adalah dimensi waktu. Para ulama salaf telah menggarisbawahi bahwa terdapat sinkronisasi antara kesiapan spiritual jiwa dengan momentum-momentum kosmik yang dibukanya pintu-pintu langit. Artikel ini akan membedah secara mendalam mengenai waktu-waktu mustajab tersebut dengan pendekatan teks primer Al-Quran dan Al-Hadits.

Dalam diskursus tafsir, kedekatan Allah dengan hamba-Nya saat berdoa digambarkan dengan istilah yang sangat intim. Hal ini menjadi landasan teologis bahwa setiap permohonan pada dasarnya didengar, namun terdapat protokol adab yang harus dipenuhi agar permohonan tersebut melampaui sekat-sekat penghalang.

Dalam Artikel

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah: 186). Ayat ini, menurut Imam Ibnu Katsir, merupakan dalil qath'i bahwa Allah tidak memerlukan perantara dalam mendengar rintihan hamba-Nya. Penggunaan kata Qarib (Dekat) menunjukkan kedekatan ilmu, pengawasan, dan rahmat. Syarat ijabah yang tersirat di sini adalah al-istijabah (memenuhi perintah Allah) dan al-iman (keyakinan penuh). Inilah pondasi utama sebelum seorang hamba memasuki dimensi waktu khusus, yaitu memastikan hubungan vertikalnya telah selaras dengan kehendak syariat.

Salah satu momentum paling sakral dalam siklus harian seorang Muslim adalah sepertiga malam terakhir. Pada saat ini, terjadi fenomena metafisika yang disebut dengan Nuzul Ilahi, di mana Allah turun ke langit dunia dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya untuk menawarkan ampunan dan pengabulan doa.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Terjemahan & Syarah Mendalam: Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits mutawatir ini menunjukkan keutamaan waktu sahur. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa waktu ini adalah saat di mana rahmat Allah melimpah dan hijab antara hamba dan Pencipta menjadi sangat tipis. Secara psikologis dan spiritual, sepertiga malam adalah waktu di mana konsentrasi (khusyuk) mencapai titik puncak karena minimnya distraksi duniawi, sehingga doa yang dipanjatkan lahir dari kedalaman hati yang paling tulus.

Selain dimensi malam, terdapat celah waktu yang sering dilalaikan oleh manusia, yaitu jeda antara kumandang adzan dan iqamah. Secara fiqih, ini adalah waktu penantian ibadah yang secara otomatis menempatkan seseorang dalam status shalat.

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ قَالُوا فَمَاذَا نَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ