Ilmu Akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang mapan mengenai siapa Tuhan yang ia sembah, maka amal ibadah kehilangan ruh dan orientasi teologisnya. Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya dalam tradisi Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah melalui sifat-sifat wajib-Nya. Sifat wajib di sini bukan berarti Allah diwajibkan oleh pihak luar, melainkan akal sehat dan dalil wahyu menetapkan bahwa sifat-sifat tersebut secara mutlak harus ada pada Dzat Yang Maha Sempurna. Pengkajian ini akan membedah secara ontologis dan epistemologis mengenai sifat-sifat tersebut guna menghindari pemahaman antromorfisme (tasybih) maupun peniadaan sifat (ta'thil).
فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى مَنْ كُلِّفَا # مَعْرِفَةُ اللهِ بِتَحْقِيْقٍ عَرَفَا
وَيَجِبُ لِلَّهِ الْوُجُودُ وَالْقِدَمْ # كَذَا بَقَاءٌ لَا يُقَارِنُ الْعَدَمْ
وَأَنَّهُ لِمَا سِوَاهُ مُخَالِفٌ # وَقَائِمٌ بِنَفْسِهِ وَوَاحِدٌ
فَهَذِهِ خَمْسَةُ أَوْصَافٍ تُسَمَّى # سِفَاتِ سَلْبِيَّةً فِيْمَا قَدْ نُمِيَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf (orang yang telah dibebani hukum syara) adalah mengenal Allah Swt dengan pengenalan yang bersifat tahqiq (pasti dan berdasar dalil). Dalam bait-bait di atas, dijelaskan bahwa sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Al-Wujud (Ada). Wujud Allah adalah wujud yang bersifat dharuri, yakni keberadaan yang tidak bermula dan tidak berakhir. Kemudian diikuti oleh sifat Qidam (Dahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Sifat-sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi untuk menafikan atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Misalnya, Qidam menafikan adanya ketiadaan sebelum Allah ada, dan Baqa menafikan adanya kepunahan bagi Allah. Selanjutnya adalah Mukhalafatuhu lil Hawaditsi, yang menegaskan bahwa Allah berbeda secara totalitas dari segala sesuatu yang baru (makhluk), baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya. Terakhir dalam kelompok ini adalah Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri) yang menunjukkan kemandirian mutlak Allah tanpa membutuhkan ruang, waktu, maupun pencipta lainnya.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاللَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِسْمٍ مُتَحَيِّزٍ وَلَا جَوْهَرٍ فَرْدٍ وَلَا عَرَضٍ يَحُلُّ فِي مَكَانٍ أَوْ يَقُومُ بِجِهَةٍ مِنَ الْجِهَاتِ السِّتِّ . بَلْ هُوَ السُّبْحَانُ الَّذِي كَانَ وَلَا مَكَانَ وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ . تَنَزَّهَ عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:

