Kajian mengenai ketuhanan merupakan puncak dari segala disiplin ilmu dalam Islam. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah upaya epistemologis untuk mengenal Sang Pencipta melalui dalil-dalil yang qath’i. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah mensistematisasikan sifat-sifat ini ke dalam klasifikasi yang logis guna membentengi akidah umat dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan sifat). Fondasi utama dalam memahami ketuhanan adalah mengakui bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang tidak terhingga, namun yang wajib diketahui secara terperinci berjumlah dua puluh sifat yang terbagi menjadi empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُودُ. فَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ. فَالْخَلْقُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ خَالِقٍ مَوْجُودٍ بِالذَّاتِ لَا بِإِيجَادِ غَيْرِهِ، وَهَذَا هُوَ الْوُجُودُ الْحَقُّ الَّذِي لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Di antara hal yang wajib bagi Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Perkasa adalah dua puluh sifat, dan yang pertama adalah al-Wujud (Ada). Sifat Wujud ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang secara logika tidak mungkin zat dapat dibayangkan tanpanya. Dalil naqli yang mendasarinya adalah firman Allah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Memelihara atas segala sesuatu (QS. Az-Zumar: 62). Secara analisis teologis, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) meniscayakan adanya Pencipta yang bersifat qadim (terdahulu) dan maugud (ada). Wujud Allah adalah wujud yang bersifat dharuri (pasti) dan mutlak, berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mumkin (mungkin ada dan mungkin tiada). Tanpa sifat wujud, maka seluruh tatanan kosmos ini tidak akan pernah terealisasi.

[TEKS ARAB BLOK 2]

ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ. فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ وَلَا انْتِهَاءَ لِذَاتِهِ الْمُقَدَّسَةِ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

Kemudian masuk pada kategori Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah Swt. Sifat ini terdiri dari lima: Qidam (Terdahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Allah berfirman: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Secara syarah mendalam, Qidam berarti meniadakan ketiadaan sebelum keberadaan Allah, sehingga Allah tidak didahului oleh apapun. Baqa berarti meniadakan ketiadaan setelah keberadaan Allah, sehingga Allah tidak akan pernah punah. Ini adalah bentuk transendensi mutlak di mana Allah tidak terikat oleh dimensi waktu yang merupakan makhluk ciptaan-Nya.