Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Pencipta (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Asy-Asy’ari dan Imam Al-Maturidi, para ulama telah mengkodifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah ke dalam skema sistematis yang dikenal dengan Sifat Duapuluh. Kodifikasi ini bukanlah upaya menambah-nambah ajaran agama, melainkan sebuah metodologi teologis (manhaj kalamiy) untuk mempermudah umat dalam memahami hakikat ketuhanan di tengah gempuran pemikiran filsafat yang menyesatkan. Sifat-sifat ini terbagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah. Pemahaman mendalam terhadap setiap kategori ini menuntut integrasi antara dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang bersumber dari nalar sehat yang jernih.

Sifat pertama yang menjadi fondasi adalah Wujud. Secara ontologis, keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan mutlak (Wajib al-Wujud). Berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bersifat mungkin (Mumkin al-Wujud) dan membutuhkan pencipta, Allah adalah sebab pertama yang tidak didahului oleh ketiadaan.

Dalam Artikel

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Rasul-rasul mereka berkata: Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Ayat ini menegaskan bahwa eksistensi Allah adalah sebuah kebenaran aksiomatis yang tidak memerlukan pembuktian rumit bagi fitrah yang lurus. Dalam kacamata tafsir teologis, kata fathir (pencipta) menunjukkan bahwa Allah mewujudkan alam semesta dari ketiadaan murni (al-ijad min al-’adam). Secara rasional, keberadaan alam semesta yang memiliki keteraturan (nizham) mustahil terjadi secara kebetulan atau ada dengan sendirinya. Adanya keteraturan meniscayakan adanya Pengatur yang Maha Ada. Sifat Wujud ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri tanpa adanya penambahan makna di luar Dzat-Nya dalam persepsi akal.

Setelah menetapkan Wujud, kita memasuki ranah Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan segala kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), dan Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Allah tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu karena Dialah pencipta ruang dan waktu tersebut.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Ayat-ayat ini merupakan pilar utama dalam konsep Tanzih (mensucikan Allah). Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah bukan materi (jism), bukan pula sifat materi (aradh), dan tidak bertempat di suatu arah (jihah). Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Allah ada sebelum adanya tempat, dan Dia sekarang tetap sebagaimana adanya sebelum tempat itu diciptakan. Sifat Qidam dan Baqa memastikan bahwa Allah adalah konstan, tidak berubah, dan tidak terpengaruh oleh kefanaan yang menimpa seluruh makhluk-Nya.

Selanjutnya adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang berdiri pada Dzat Allah yang memberikan pengaruh pada ciptaan-Nya. Sifat-sifat ini meliputi Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), ‘Ilmu (Ilmu), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Fokus utama dalam kajian ini seringkali tertuju pada Qudrah dan Iradah yang mengatur seluruh gerak alam semesta.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ