Ilmu Akidah atau Ilmu Kalam merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa ma’rifatullah (mengenal Allah) yang benar, seluruh amal ibadah kehilangan ruh dan orientasinya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah guna memagari keyakinan umat dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) maupun ta’thil (meniadakan sifat Allah). Memahami sifat wajib bagi Allah bukan sekadar menghafal deretan nama, melainkan menyelami hakikat eksistensi Sang Pencipta melalui dalil-dalil yang bersifat qath’i (pasti). Pembahasan ini akan membawa kita pada kedalaman makna Wujud, Qidam, Baqa, hingga sifat-sifat Ma’nawiyah yang menyempurnakan persepsi ketuhanan dalam sanubari manusia.
Pembahasan pertama dimulai dari sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri, yakni Al-Wujud. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan rasional dan teologis yang tidak membutuhkan pencipta lain.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ. وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka. Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal. (QS. Al-An’am: 1-3). Dalam tinjauan tafsir, ayat ini menegaskan sifat Wujud Allah melalui argumentasi kosmologis (dalil kauniyah). Adanya alam semesta yang teratur, adanya gelap dan terang, serta siklus penciptaan manusia adalah bukti nyata bahwa ada Al-Khaliq yang bersifat Wajib al-Wujud (Wajib adanya). Secara akal, mustahil sebuah akibat (alam) ada tanpa adanya sebab (Tuhan). Sifat Wujud ini meniadakan sifat Adam (tiada) bagi Allah Swt.
Setelah menetapkan keberadaan-Nya, kita harus memahami sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi, yang menegaskan bahwa Allah berbeda secara total dari segala sesuatu yang baru (makhluk).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11). Ayat ini adalah kaidah emas dalam ilmu akidah untuk menjaga kemurnian tauhid. Kalimat Laisa Kamitslihi Syai’un merupakan penafian total terhadap segala bentuk antropomorfisme (tajsim). Allah tidak berarah, tidak bertempat, tidak beranggota badan, dan tidak terikat oleh ruang dan waktu karena semua itu adalah sifat makhluk (hawadits). Syarah mendalam dari para mufassir menjelaskan bahwa meskipun Allah disebut Mendengar dan Melihat, namun hakikat pendengaran dan penglihatan Allah berbeda mutlak dengan cara makhluk mendengar dan melihat.
Selanjutnya adalah sifat Wahdaniyah (Keesaan). Allah adalah Esa dalam Zat-Nya, Esa dalam Sifat-Nya, dan Esa dalam Af’al (perbuatan-Nya). Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mengatur semesta ini.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. هَذِهِ السُّورَةُ هِيَ أَصْلُ التَّوْحِيدِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ وَالتَّنْزِيهُ لِلَّهِ تَعَالَى عَنِ النَّقْصِ وَالشَّبِيهِ وَالنَّظِيرِ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ

