Memahami hakikat ketuhanan merupakan kewajiban primordial bagi setiap mukallaf sebelum melangkah pada ranah syariat yang lebih kompleks. Dalam tradisi teologi Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap Allah Swt dilakukan melalui pemetaan sifat-sifat-Nya yang terbagi menjadi sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi logika yang sangat presisi untuk membedakan antara Al-Khaliq (Pencipta) yang bersifat mutlak dan al-makhlut (ciptaan) yang bersifat kontingen atau mungkin al-wujud. Analisis ini bertujuan untuk membersihkan nalar manusia dari tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat), sehingga tercapai sebuah pemahaman tauhid yang murni dan kokoh secara intelektual maupun spiritual.

TEKS ARAB BLOK 1

Dalam Artikel

فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ حَالٌ وَاجِبَةٌ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ. وَأَمَّا الْقِدَمُ فَهُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ وَالْبَقَاءُ هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ. وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ مَعْنَاهَا سَلْبُ الْجِرْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْكُلِّيَّةِ وَالْجُزْئِيَّةِ وَلَوَازِمِهَا عَنْ ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Di antara sifat yang wajib bagi Tuhan kita Yang Maha Mulia dan Agung adalah dua puluh sifat, yaitu: Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Wujud adalah sifat nafsiyah, yakni keadaan yang pasti ada pada dzat selama dzat itu ada tanpa disebabkan oleh sebab apa pun. Adapun Qidam adalah meniadakan ketiadaan yang mendahului keberadaan-Nya, dan Baqa adalah meniadakan ketiadaan yang menyusul keberadaan-Nya. Sedangkan Mukhalafatu lil Hawaditsi bermakna meniadakan sifat kebendaan (jirmiyah), sifat aksidental (aradhiyah), sifat menyeluruh (kulliyah), maupun sifat bagian (juz'iyah) serta segala konsekuensinya dari Dzat Allah yang Maha Luhur. Analisis ini menegaskan bahwa keberadaan Allah bersifat mandiri (independent existence), berbeda dengan alam semesta yang keberadaannya bersifat bergantung (dependent existence). Sifat Salbiyah seperti Qidam dan Baqa berfungsi untuk memutus rantai regresi tak terbatas (tasalsul) dan lingkaran setan (daur) dalam logika penciptaan.

TEKS ARAB BLOK 2

ثُمَّ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى سَبْعُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتِ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تَتَأَثَّرُ بِهَا الْمُمْكِنَاتُ وُجُودًا وَعَدَمًا عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Kemudian wajib bagi Allah Ta'ala tujuh sifat yang disebut dengan Sifat Ma'ani, yaitu: Qudrat (Kuasa), Iradat (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Qudrat adalah sifat azali yang dengannya segala sesuatu yang mungkin (mumkinat) dipengaruhi baik dalam hal keberadaannya maupun ketiadaannya sesuai dengan kehendak-Nya. Iradat adalah sifat azali yang mengkhususkan hal yang mungkin dengan sebagian sifat yang boleh ada padanya (seperti waktu, tempat, dan ukuran). Ilmu adalah sifat azali yang dengannya segala sesuatu yang diketahui tersingkap sebagaimana hakikatnya, dengan penyingkapan yang tidak mengandung kemungkinan sebaliknya dalam aspek apa pun. Secara epistemologis, sifat Ma'ani ini menjelaskan bagaimana Allah berinteraksi dengan alam semesta. Qudrat dan Iradat adalah motor penggerak eksistensi, sementara Ilmu merupakan basis data absolut yang melingkupi segala sesuatu baik yang nyata maupun yang ghaib, yang partikular maupun yang universal, tanpa didahului oleh ketidaktahuan atau keraguan.