Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai siapa Sang Pencipta, maka seluruh amal ibadah akan kehilangan orientasi hakikinya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy-ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah Swt melalui klasifikasi sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Sifat-sifat ini bukanlah batasan bagi kesempurnaan Allah yang tak terhingga, melainkan pintu masuk intelektual dan spiritual bagi akal manusia yang terbatas untuk memahami kemutlakan Zat Yang Maha Kuasa. Pembahasan ini akan membedah secara ontologis dan epistemologis mengenai esensi keberadaan Tuhan yang mutlak.
PEMBAHASAN SIFAT NAFSIYYAH DAN EKSISTENSI ZAT
Sifat pertama yang menjadi fondasi adalah Wujud. Secara akal, keberadaan alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi tanpa adanya penggerak pertama yang keberadaannya bersifat niscaya atau Wajib al-Wujud. Allah Swt ada bukan karena diciptakan, melainkan keberadaan-Nya adalah esensi dari Zat-Nya sendiri. Berikut adalah landasan teologis mengenai eksistensi-Nya:
الَّذِي لَا يَشُكُّ فِيهِ مُؤْمِنٌ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ، وَوُجُودُهُ ذَاتِيٌّ لَا عِلَّةَ لَهُ، وَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي. وَهَذَا الْوُجُودُ ثَابِتٌ بِالدَّلَائِلِ الْعَقْلِيَّةِ وَالنَّقْلِيَّةِ الْقَاطِعَةِ الَّتِي لَا تَقْبَلُ التَّأْوِيلَ بِمَا يُخَالِفُ أَصْلَ التَّوْحِيدِ.
Terjemahan dan Syarah: Sesuatu yang tidak diragukan lagi oleh seorang mukmin adalah bahwa Allah Ta'ala itu Ada (Mawjud). Keberadaan-Nya adalah zatiah, tidak memiliki sebab (kausa), dan Dia adalah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (QS. Thaha: 14). Keberadaan ini ditetapkan dengan dalil-dalil akal dan wahyu yang pasti, yang tidak menerima penafsiran yang menyimpang dari prinsip tauhid. Syarah mendalamnya menjelaskan bahwa wujud Allah berbeda dengan wujud makhluk; wujud makhluk bersifat mungkin (mungkinul wujud) dan bergantung pada pencipta, sedangkan wujud Allah adalah mandiri dan abadi.
PEMBEDAHAN SIFAT SALBIYYAH DAN TRANSENDENSI ILAHI
Setelah memahami keberadaan-Nya, kita harus memahami Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi kemuliaan Allah. Sifat-sifat ini meliputi Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsih (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Fokus utama di sini adalah penegasan bahwa Allah tidak menyerupai apa pun yang terlintas dalam benak manusia.
وَيَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، فَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ فِي ذَاتِهِ وَلَا فِي صِفَاتِهِ وَلَا فِي أَفْعَالِهِ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَهُوَ الْقَدِيمُ بِلَا ابْتِدَاءٍ، وَالْبَاقِي بِلَا انْتِهَاءٍ، لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ، وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ، مُنَزَّهٌ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالْمَكَانِ.
Terjemahan dan Syarah: Dan wajib bagi Allah Ta'ala sifat Qidam, Baqa, dan Mukhalafatu lil Hawaditsi. Maka tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyerupai-Nya, baik dalam Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Dia Maha Dahulu tanpa permulaan, Maha Kekal tanpa akhir, tidak akan binasa dan tidak akan lenyap, dan tidak terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki. Dia maha suci dari sifat kebendaan, sifat baru, arah, maupun tempat. Syarah ini menegaskan konsep Tanzih (penyucian), di mana akal harus tunduk pada fakta bahwa Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu karena Dialah pencipta ruang dan waktu itu sendiri.

