Memahami hakikat ketuhanan merupakan kewajiban primordial bagi setiap mukalaf sebelum melangkah pada ranah syariat yang lebih kompleks. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam madrasah Asy-ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap sifat-sifat Allah Swt dikerangkakan dalam sistematika yang sangat rigid dan logis untuk menghindari kerancuan berpikir (tasybih) maupun peniadaan sifat (tathil). Sifat wajib bagi Allah bukan sekadar atribut semantik, melainkan realitas ontologis yang harus diyakini secara mutlak berdasarkan argumentasi wahyu (naqli) dan rasio (aqli). Ulama merumuskan dua puluh sifat wajib yang secara garis besar terbagi menjadi sifat Nafsiyah, Salbiyah, Maani, dan Manawiyah. Kajian ini akan membedah beberapa pilar utama dari sifat-sifat tersebut dengan merujuk pada teks-teks otoritatif.
Pilar pertama dalam diskursus akidah adalah menetapkan eksistensi Allah Swt yang bersifat mutlak. Sifat Wujud merupakan sifat Nafsiyah yang menjadi dasar bagi seluruh sifat lainnya. Secara rasional, keteraturan alam semesta (kosmos) mustahil terjadi tanpa adanya Penggerak Pertama (Al-Muharrik al-Awwal) yang keberadaannya tidak bergantung pada entitas lain. Allah Swt berfirman dalam Al-Quran mengenai kesaksian atas eksistensi-Nya yang nyata melalui ciptaan-Nya.
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Terjemahan: Katakanlah: Siapakah Tuhan langit dan bumi? Jawablah: Allah. Katakanlah: Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung selain-Nya, padahal mereka tidak mempunyai daya untuk mendatangkan kemanfaatan dan tidak pula untuk menolak kemudaratan bagi diri mereka sendiri? Katakanlah: Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah kegelapan dan cahaya? Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (QS. Ar-Ra'd: 16).
Syarah: Ayat ini menegaskan bahwa pengakuan terhadap eksistensi Allah (Wujud) berkaitan erat dengan peran-Nya sebagai Al-Khaliq (Pencipta). Secara epistemologis, keberadaan alam yang bersifat baru (hadits) memerlukan adanya pencipta yang bersifat terdahulu (qadim). Jika pencipta itu sendiri bersifat baru, maka akan terjadi lingkaran setan (daur) atau rentetan tanpa akhir (tasalsul) yang secara logika mustahil. Oleh karena itu, sifat Wujud bagi Allah adalah keniscayaan rasional dan kebenaran wahyu yang absolut.
Setelah menetapkan Wujud, maka sifat selanjutnya yang harus dipahami adalah Qidam (Terdahulu) dan Baqa (Kekal). Sifat ini masuk dalam kategori Salbiyah, yakni sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Allah tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri oleh kepunahan. Dimensi waktu tidak berlaku bagi Zat-Nya karena waktu itu sendiri adalah makhluk yang diciptakan.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3).
Syarah: Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fil Itiqad menjelaskan bahwa Al-Awwal berarti keberadaan-Nya tidak memiliki permulaan (Qidam), sedangkan Al-Akhir berarti keberadaan-Nya tidak memiliki kesudahan (Baqa). Penegasan ini sangat penting untuk membedakan antara Sang Pencipta dengan makhluk. Makhluk memiliki titik awal (birth) dan titik akhir (death), sedangkan Allah Swt melampaui batasan temporal tersebut. Ke-Awal-an Allah bukan berarti awal secara deret hitung, melainkan awal secara ontologis yang meniadakan ketiadaan sebelumnya.

