Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan Islam yang menentukan sah atau tidaknya seluruh amal ibadah seorang hamba. Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) bukan sekadar mengetahui nama-Nya, melainkan memahami dengan seyogianya sifat-sifat kesempurnaan yang melekat pada Zat-Nya yang Maha Agung. Para ulama kalam, khususnya dari mazhab Al-Asy'ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan konsep Sifat 20 sebagai metodologi untuk memudahkan umat Islam dalam memahami sifat-sifat yang wajib bagi Allah secara sistematis. Pendekatan ini menggabungkan kekuatan wahyu (naqli) dan ketajaman logika (aqli) guna membentengi keyakinan dari syubhat atau keraguan yang mungkin muncul dalam pemikiran manusia yang terbatas.
Sifat yang pertama dan paling mendasar adalah Wujud. Keberadaan Allah Swt adalah sebuah keniscayaan yang tidak membutuhkan penyebab lain. Secara logika, adanya alam semesta yang teratur ini merupakan bukti konkret adanya Sang Pencipta yang Maha Ada. Sifat ini disebut sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu dan tidak akan pernah berakhir, yang kemudian dijelaskan melalui sifat Qidam dan Baqa. Allah tidak terikat oleh dimensi waktu karena Dialah yang menciptakan waktu itu sendiri.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3).
Syarah: Ayat ini merupakan landasan utama bagi sifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Kata Al-Awwal menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun sebelum Allah, sedangkan Al-Akhir menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Para mufassir menjelaskan bahwa keberadaan Allah bersifat mutlak, berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bersifat mungkin (mumkinul wujud) dan memiliki titik awal serta akhir. Pemahaman ini menghancurkan logika tasalsul (mata rantai tanpa ujung) dan dawr (perputaran sebab-akibat yang mustahil) dalam filsafat ketuhanan.
Selanjutnya, akidah Islam menekankan pada prinsip Tanzih atau penyucian Allah dari segala keserupaan dengan makhluk-Nya. Sifat ini dikenal dengan Mukhalafatu lil Hawaditsi. Allah Swt tidak memiliki organ tubuh, tidak menempati ruang, dan tidak membutuhkan tempat tinggal. Jika manusia membutuhkan oksigen untuk hidup atau cahaya untuk melihat, maka Allah Maha Berdiri Sendiri (Qiyamuhu Binafsihi). Segala ketergantungan adalah bentuk kelemahan, dan Allah mustahil memiliki kelemahan. Prinsip ini diperkuat dengan sifat Wahdaniyah, yaitu keesaan Allah dalam Zat, Sifat, dan Perbuatan-Nya.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).
Syarah: Ayat ini adalah kaidah emas dalam ilmu tauhid. Bagian pertama ayat (Laisa Kamitslihi Syaiun) berfungsi sebagai penolak seluruh bentuk tasybih (penyerupaan) dan tajsim (pembendaan) terhadap Allah. Sedangkan bagian kedua (Wa Huwas Sami'ul Bashir) menetapkan sifat bagi Allah. Hal ini mengajarkan kita untuk menetapkan sifat bagi Allah sebagaimana Dia menetapkannya untuk diri-Nya, namun dengan keyakinan bahwa hakikat mendengar dan melihat-Nya Allah tidaklah sama dengan cara makhluk mendengar dan melihat. Pendengaran Allah tidak memerlukan telinga, dan penglihatan Allah tidak memerlukan mata atau pantulan cahaya.

