Ma'rifatullah atau mengenal Allah merupakan pilar utama dalam bangunan iman yang menjadi fondasi bagi seluruh amal ibadah seorang hamba. Tanpa mengenal Sang Pencipta melalui sifat-sifat-Nya yang luhur, seorang mukmin akan kehilangan arah dalam menghayati eksistensi ketuhanan. Para ulama kalam, khususnya dari madrasah Al-Asya'irah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk memahami hakikat Ilahiyah melalui klasifikasi dua puluh sifat wajib. Kajian ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah dialektika intelektual yang memadukan dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang berlandaskan logika rasional untuk membuktikan kesempurnaan mutlak Allah Swt serta menafikan segala bentuk kekurangan bagi-Nya.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ . وَقَالَ الْعُلَمَاءُ فِي تَعْرِيفِ الْوُجُودِ: هُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَقْبَلُ الْعَقْلُ عَدَمَهَا، وَاللَّهُ تَعَالَى وَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ، لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ أَوْ عِلَّةٍ خَارِجِيَّةٍ، بَلْ هُوَ الَّذِي أَوْجَدَ الْمَوْجُودَاتِ كُلَّهَا مِنْ عَدَمٍ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang hak) melainkan Allah (QS. Muhammad: 19). Dalam tinjauan ontologis, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Para ulama mengklasifikasikan Wujud sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan jati diri zat tanpa tambahan makna lain. Secara logika aqliyah, alam semesta yang bersifat baru (hadist) ini merupakan bukti konkrit adanya Pencipta yang bersifat Qadim (terdahulu). Allah adalah Wajib al-Wujud, di mana akal sehat tidak dapat menerima ketiadaan-Nya. Keberadaan Allah tidak bergantung pada ruang, waktu, atau sebab eksternal apa pun, karena Dialah penyebab utama (Al-Illah al-Ula) dari segala yang ada di alam semesta ini.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . وَهَذِهِ الصِّفَاتُ تُسَمَّى بِالصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ، وَهِيَ تَنْفِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى كُلَّ مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، مِثْلَ الْحُدُوثِ وَالْفَنَاءِ وَالْمُمَاثَلَةِ لِلْحَوَادِثِ وَالِاحْتِيَاجِ إِلَى الْغَيْرِ وَالتَّعَدُّدِ فِي الذَّاتِ أَوِ الصِّفَاتِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Bagian kedua ini mencakup Sifat Salbiyah yang terdiri dari Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Sifat Salbiyah berfungsi untuk menafikan atau meniadakan sifat-sifat kekurangan yang secara mustahil ada pada Allah. Misalnya, Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan secara mutlak bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam aspek apa pun, baik zat, sifat, maupun perbuatan. Penafian ini sangat krusial untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham antropomorfisme (tasybih) yang menyerupakan Tuhan dengan manusia.
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ . وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ . وَصِفَاتُ الْمَعَانِي هِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ . فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ يُوجِدُ بِهَا الْمُمْكِنَاتِ وَيُعْدِمُهَا، وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

