Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai siapa Sang Pencipta, maka seluruh amal ibadah kehilangan ruhnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madzhab Asy-ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman akidah melalui pengenalan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat wajib ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah metodologi bagi akal manusia yang terbatas untuk memahami keagungan-Nya secara sistematis. Pembahasan ini mencakup empat kategori utama: Sifat Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Pengetahuan ini menjadi perisai dari syubhat atheisme maupun tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk).

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَجَبَ لَهُ الْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، وَتَنَزَّهَ عَنِ الشَّرِيكِ وَالْأَشْبَاهِ وَالْأَعْدَاءِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُتَّصِفُ بِكُلِّ كَمَالٍ، وَالْمُنَزَّهُ عَنْ كُلِّ نُقْصَانٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي. فَالْوُجُودُ هُوَ أَوَّلُ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ الْعَلِيَّةَ بِدُونِهَا. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ وُجُودُ هَذَا الْعَالَمِ الْمُتَغَيِّرِ الَّذِي لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُوجِدٍ قَدِيمٍ خَالِقٍ.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Segala puji bagi Allah yang wajib bagi-Nya sifat Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu), dan Baqa (Kekal), serta Maha Suci dari sekutu, serupa, dan lawan. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, yang bersifat dengan segala kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan. Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (QS. Thaha: 14). Sifat Wujud adalah sifat pertama yang wajib diketahui, yang dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri. Secara rasional, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan terus berubah ini mustahil terjadi tanpa adanya Pencipta yang Wujud-Nya bersifat niscaya (Wajib al-Wujud). Wujud Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh ketiadaan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. هَذِهِ الآيَةُ الْكَرِيمَةُ هِيَ الْأَصْلُ فِي صِفَاتِ التَّنْزِيهِ أَوِ الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ. وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ هُنَا هُوَ سَلْبُ وَنَفْيُ مَا لَا يَلِيقُ بِاللَّهِ تَعَالَى. فَاللَّهُ تَعَالَى مُخَالِفٌ لِلْحَوَادِثِ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ. فَلَا جِسْمَ لَهُ وَلَا عَرَضَ وَلَا حَيِّزَ وَلَا جِهَةَ. وَهُوَ الْقَدِيمُ الَّذِي لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ، وَالْبَاقِي الَّذِي لَا انْتِهَاءَ لِبَقَائِهِ، وَالْقَائِمُ بِنَفْسِهِ فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى مَحَلٍّ وَلَا إِلَى مُخَصِّصٍ، وَالْوَاحِدُ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ فَلَا تَعَدُّدَ وَلَا تَرْكِيبَ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Ayat mulia ini merupakan fondasi utama dalam memahami Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan apa yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sifat-sifat ini mencakup Mukhalafah lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qidam, Baqa, Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Allah tidak menyerupai makhluk dalam aspek apapun; Dia bukan materi (jism), tidak menempati ruang, dan tidak terikat oleh dimensi waktu. Kemandirian-Nya mutlak, di mana Dia tidak membutuhkan pencipta lain atau tempat bersandar. Keesaan-Nya mencakup Dzat yang tidak tersusun dari bagian-bagian, sifat yang tidak berbilang pada jenis yang sama, dan perbuatan yang tidak dicampuri oleh kekuatan makhluk manapun.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ. وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. هَذِهِ الصِّفَاتُ تُسَمَّى صِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ يُوجِدُ بِهَا وَيُعْدِمُ، وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومُ انْكِشَافًا تَامًّا، وَالْحَيَاةُ صِفَةٌ تُصَحِّحُ لِمَنْ قَامَتْ بِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ وَغَيْرِهِمَا. وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ يَتَعَلَّقَانِ بِالْمَوْجُودَاتِ، وَالْكَلَامُ هُوَ الصِّفَةُ الْأَزَلِيَّةُ الْمُنَزَّهَةُ عَنِ الْحَرْفِ وَالصَّوْتِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan (QS. Al-An'am: 59). Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sifat-sifat ini disebut Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang tetap pada Dzat Allah. Qudrah (Kuasa) adalah sifat untuk mewujudkan atau meniadakan sesuatu sesuai kehendak-Nya. Iradah (Kehendak) adalah sifat untuk menentukan segala kemungkinan. Ilmu (Pengetahuan) adalah sifat yang menyingkap segala sesuatu secara mutlak tanpa ada yang tersembunyi. Hayat (Hidup) adalah syarat bagi tegaknya sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Sama' (Mendengar) dan Bashar (Melihat) mencakup segala yang ada tanpa perantara alat indrawi. Sedangkan Kalam (Berfirman) adalah sifat abadi Allah yang tidak terdiri dari suara maupun huruf, yang berbeda dengan bahasa manusia yang bersifat baru.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. إِنَّ التَّحْقِيقَ فِي مَعْرِفَةِ هَذِهِ الصِّفَاتِ يُورِثُ فِي قَلْبِ الْمُؤْمِنِ تَعْظِيمًا لِلَّهِ وَتَوَكُّلًا عَلَيْهِ. فَإِذَا عَلِمَ الْعَبْدُ أَنَّ اللَّهَ وَاحِدٌ فِي أَفْعَالِهِ، انْقَطَعَ رَجَاؤُهُ عَنِ الْخَلْقِ. وَإِذَا عَلِمَ أَنَّهُ سَمِيعٌ بَصِيرٌ، اسْتَحْيَا مِنَ الْمَعْصِيَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. وَإِذَا عَلِمَ أَنَّهُ قَدِيرٌ مُرِيدٌ، اطْمَأَنَّ قَلْبُهُ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ. فَالْعِلْمُ بِالصِّفَاتِ لَيْسَ مُجَرَّدَ تَرَفٍ فِكْرِيٍّ، بَلْ هُوَ أَصْلُ التَّزْكِيَةِ وَمَعْدِنُ الِاسْتِقَامَةِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Pendalaman dalam mengenal sifat-sifat ini membuahkan rasa pengagungan dan tawakal di dalam hati seorang mukmin. Ketika seorang hamba menyadari bahwa Allah Maha Esa dalam perbuatan-Nya, maka putuslah harapannya kepada makhluk. Ketika ia mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, ia akan merasa malu untuk bermaksiat baik dalam kesunyian maupun keramaian. Ketika ia memahami bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, hatinya menjadi tenang dalam menerima qadha dan qadar Allah. Maka, ilmu tentang sifat-sifat Allah bukanlah sekadar wacana intelektual, melainkan akar dari pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan sumber keistiqamahan.