Pondasi utama dalam beragama adalah mengenal Sang Pencipta atau yang dikenal dengan istilah Ma'rifatullah. Tanpa pengenalan yang benar terhadap hakikat ketuhanan, seluruh bangunan ibadah seorang hamba berisiko runtuh karena tidak berpijak pada akidah yang kokoh. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya mazhab Al-Asy'ariyah dan Al-Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah melalui klasifikasi Sifat Dua Puluh. Rumusan ini bukanlah sebuah inovasi yang mengada-ada, melainkan sebuah metode pedagogis untuk mempermudah umat Islam dalam memahami dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah secara rasional dan tekstual. Pembahasan ini mencakup sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah yang menjadi batas pemisah antara Khaliq dan makhluk.
Kajian mendalam mengenai eksistensi Allah dimulai dengan sifat Wujud. Sifat ini merupakan sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna di luar zat tersebut. Secara rasional, keberadaan alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi tanpa adanya penggerak pertama yang keberadaannya bersifat niscaya (Wajib al-Wujud). Dalil ini mengarahkan logika manusia untuk mengakui bahwa Allah ada bukan karena diciptakan, melainkan karena Zat-Nya menuntut keberadaan yang mutlak.
لَهُ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ . قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَاْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ . وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرُوْنَ . بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ . وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Milik-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang yang rugi. Katakanlah (Muhammad), Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh? Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. Bahkan karena itu, hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan jadilah engkau termasuk orang yang bersyukur. Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS. Az-Zumar: 63-67). Syarah: Ayat ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh eksistensi. Ulama tafsir menjelaskan bahwa sifat Wujud Allah dibuktikan dengan kepemilikan-Nya atas segala kunci langit dan bumi, yang menunjukkan bahwa Dia adalah penyebab utama (Al-Illah al-Gha'iyyah) dari segala yang ada. Ketidakmampuan manusia mengagungkan Allah dengan semestinya seringkali disebabkan oleh kegagalan memahami bahwa Allah adalah Zat yang tidak membutuhkan ruang dan waktu, namun segala ruang dan waktu berada dalam kendali-Nya.
Setelah memahami Wujud, kita memasuki ranah Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Berbeda dengan makhluk yang memiliki titik awal dan titik akhir, Allah Swt bersifat Azali. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan tasalsul (mata rantai tanpa ujung) yang secara logika mustahil terjadi dalam sistem penciptaan.
هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ . هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadid: 3-4). Syarah: Nama Al-Awwal dalam ayat ini merujuk pada sifat Qidam, yang berarti tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Al-Akhir merujuk pada sifat Baqa, yang berarti tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Para mufassir menekankan bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-Nya (ma'iyyah) bukanlah kebersamaan secara fisik atau tempat, melainkan kebersamaan melalui ilmu (pengetahuan) dan pengawasan-Nya yang tidak terbatas oleh dimensi material.
Prinsip fundamental selanjutnya dalam akidah adalah Mukhalafatu lil-Hawaditsi, yakni Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (makhluk). Sifat ini sangat krusial untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham antromorfisme (tasybih) atau menyerupakan Allah dengan manusia. Allah tidak bertubuh, tidak beranggota badan, tidak menempati ruang, dan tidak terkena hukum perubahan. Segala bayangan yang terlintas dalam benak manusia mengenai bentuk Allah, maka Allah tidaklah demikian, karena akal manusia hanya mampu menangkap fenomena materi, sementara Allah adalah pencipta materi itu sendiri.
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ . لَهٗ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۚ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ . ۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ

