Kajian mengenai akidah Islam, khususnya dalam memahami pilar Ma'rifatullah (mengenal Allah Swt), merupakan fondasi utama dalam epistemologi Islam. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah menyusun formulasi sistematis untuk memahami sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan ja'iz bagi Allah Swt. Formulasi ini tidak diciptakan untuk membuat rumit ajaran agama, melainkan sebagai benteng intelektual (hujjah) dalam menjaga kemurnian tauhid dari penyimpangan antropomorfisme (tajsim/tasybih) di satu sisi, dan agnostisisme atau peniadaan sifat (ta'thil) di sisi lain. Dalam metodologi ilmu kalam, sifat-sifat wajib Allah dikelompokkan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini memadukan ketajaman akal sehat (dalil 'aqli) dan otoritas wahyu (dalil naqli) guna membangun kesadaran teologis yang murni.
Secara ontologis, keberadaan Allah Swt adalah Wajib al-Wujud (keberadaan yang mutlak dan wajib adanya). Keberadaan-Nya tidak diawali oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Fondasi pemikiran ini berakar kuat pada nash Al-Quran yang menegaskan keeksklusifan sifat-sifat ketuhanan tersebut, sebagaimana tertuang dalam firman Allah Swt berikut ini:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan dan Syarah Akidah:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3)
Dalam tinjauan tafsir dan akidah, ayat ini merupakan pilar utama penegasan sifat Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu tanpa awal), dan Baqa' (Kekal tanpa akhir). Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa nama Al-Awwal bermakna Dialah yang ada sebelum segala sesuatu diciptakan tanpa ada batas permulaan, yang dalam istilah kalam disebut Qidam. Adapun Al-Akhir menunjukkan bahwa Dia tetap ada setelah seluruh makhluk musnah, yang merepresentasikan sifat Baqa'. Secara akal rasional, jika Allah memiliki permulaan, maka Dia memerlukan pencipta lain (muhdits), yang akan berujung pada mata rantai tanpa akhir (tasalsul) atau lingkaran hampa (daur), di mana keduanya merupakan kemustahilan logis. Oleh karena itu, akal yang sehat wajib menerima bahwa Sang Pencipta harus bersifat Qidam dan Baqa'.
Formula Epistemologis Akidah Ahlussunnah wal Jamaah Dalam Memahami Sifat Wajib Bagi Allah SWT
Selanjutnya, pilar penting dalam tauhid Asy'ariyah adalah prinsip Tanzih, yaitu mensucikan Allah dari segala keserupaan dengan makhluk-Nya. Kategori sifat Salbiyah, seperti Mukhalafatuuhu lil-Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), menegaskan bahwa Sang Pencipta tidak terikat oleh dimensi ruang, waktu, bentuk, materi, maupun sifat-sifat fisik alam raya. Prinsip tanzih yang sangat fundamental ini ditegaskan secara eksplisit dalam ayat Al-Quran berikut:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan dan Syarah Akidah:

