Mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan kewajiban primordial bagi setiap mukallaf sebelum ia melangkah lebih jauh dalam syariat. Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya dalam madzhab Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, pengenalan terhadap Sang Khalik disusun secara sistematis melalui rumusan Sifat Dua Puluh. Sifat-sifat ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah metodologi teologis untuk membedakan antara Sang Pencipta (Al-Khaliq) dengan yang diciptakan (al-makhluq). Pengetahuan ini didasarkan pada integrasi harmonis antara wahyu (dalil naqli) dan nalar murni (dalil aqli), yang bertujuan untuk membersihkan akidah dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat).

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ . وَقَالَ الْإِمَامُ السَّنُوسِيُّ فِي أُمِّ الْبَرَاهِينِ: مِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً، وَهِيَ: الْوُجُودُ، وَالْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ، وَالْقُدْرَةُ، وَالْإِرَادَةُ، وَالْعِلْمُ، وَالْحَيَاةُ، وَالسَّمْعُ، وَالْبَصَرُ، وَالْكَلَامُ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) melainkan Allah (QS. Muhammad: 19). Imam al-Sanusi dalam kitab Ummul Barahin menegaskan bahwa di antara sifat-sifat yang wajib bagi Tuhan kita yang Maha Agung dan Mulia adalah dua puluh sifat. Sifat pertama adalah Wujud (Ada). Secara ontologis, wujud Allah adalah Wujud Dzati, yang artinya keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh faktor eksternal. Berbeda dengan alam semesta yang wujudnya bersifat mungkin (mumkinul wujud), Allah adalah Wajibul Wujud. Para ulama menjelaskan bahwa meniadakan keberadaan Pencipta saat menyaksikan ciptaan yang sedemikian presisi adalah sebuah kemustahilan rasional. Sifat Wujud ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjukkan pada esensi (dzat) itu sendiri tanpa ada tambahan makna lain.

[TEKS ARAB BLOK 2]

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ . سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ . وَالْقِدَمُ مَعْنَاهُ عَدَمُ افْتِتَاحِ الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ مَعْنَاهُ عَدَمُ اخْتِتَامِ الْوُجُودِ، فَاللَّهُ تَعَالَى لَا بَدَايَةَ لِوُجُودِهِ وَلَا نِهَايَةَ لَهُ، لِأَنَّ مَا ثَبَتَ قِدَمُهُ اسْتَحَالَ عَدَمُهُ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (QS. Ar-Rahman: 26-27). Sifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa’ (Kekal tanpa akhir) merupakan Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Qidam meniadakan adanya ketiadaan sebelum keberadaan Allah (huduts), sedangkan Baqa’ meniadakan adanya ketiadaan setelah keberadaan Allah (fana). Secara logika, jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan ini akan mengakibatkan tasalsul (mata rantai pencipta yang tak berujung) atau dawr (lingkaran penciptaan yang mustahil), keduanya adalah batil secara akal. Oleh karena itu, Allah adalah Al-Azali (Maha Dahulu) dan Al-Abadi (Maha Kekal).