Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman yang menuntut kepastian (ittiqan) dalam berkeyakinan. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah Swt melalui klasifikasi sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Pengenalan ini bukan sekadar hafalan tekstual, melainkan sebuah proses dialektika akal dan hati untuk mencapai derajat ma’rifatullah yang hakiki. Secara epistemologis, sifat-sifat ini dibagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Memahami sifat-sifat ini adalah kewajiban pertama bagi setiap mukalaf sebelum melangkah pada syariat lainnya, sebagaimana kaidah menyatakan bahwa mengenal Yang Disembah mendahului penyembahan itu sendiri.

فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْإِنْسَانِ مَعْرِفَةُ الْإِلَهِ بِاسْتِيقَانِ. وَالصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ هِيَ الْوُجُودُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا بِعِلَّةٍ وَلَا بِفَاعِلٍ، بَلْ وُجُودُهُ ذَاتِيٌّ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ هَذَا الْعَالَمَ حَادِثٌ، وَكُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ، وَهُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ. فَالْوُجُودُ هُوَ عَيْنُ الذَّاتِ فِي حَقِّهِ تَعَالَى عِنْدَ الْأَشْعَرِيِّ، وَهُوَ صِفَةٌ اعْتِبَارِيَّةٌ عِنْدَ غَيْرِهِ.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Kewajiban pertama bagi manusia adalah mengenal Tuhan dengan keyakinan yang kokoh. Sifat Nafsiyah yang pertama adalah Al-Wujud (Ada). Maknanya, Allah Swt itu ada tanpa sebab dan tanpa pembuat. Keberadaan-Nya adalah esensi (dzati) yang tidak menerima ketiadaan, baik di masa azali (tanpa awal) maupun abadi (tanpa akhir). Dalil aqli menunjukkan bahwa alam semesta ini bersifat baru (hadits), dan setiap yang baru pasti membutuhkan pencipta yang wajib keberadaannya (Wajib al-Wujud), yaitu Allah Swt. Allah berfirman dalam Surah Ath-Thur ayat 35: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Secara teologis, menurut Imam Al-Asy’ari, Wujud adalah esensi zat itu sendiri, sementara menurut ulama lain, ia adalah sifat aksidental yang melekat pada zat dalam persepsi akal.

ثُمَّ تَلِيهَا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ، وَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلِبُ وَتَنْفِي عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ. فَالْقِدَمُ يَنْفِي الْعَدَمَ السَّابِقَ، وَالْبَقَاءُ يَنْفِي الْعَدَمَ اللَّاحِقَ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ تَنْفِي الْمُمَاثَلَةَ لِلْمَخْلُوقَاتِ جِسْمًا أَوْ عَرَضًا. قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَهَذِهِ الصِّفَاتُ تَقْطَعُ كُلَّ تَوَهُّمٍ بِالتَّجْسِيمِ أَوِ التَّشْبِيهِ، فَالْخَالِقُ مُنَزَّهٌ عَنِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْجِهَةِ، لِأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ مِنْ خَصَائِصِ الْحَوَادِثِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Kemudian diikuti oleh Sifat Salbiyah yang berjumlah lima: Qidam (Terdahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Makna Salbiyah adalah sifat yang meniadakan atau menafikan apa yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Qidam menafikan ketiadaan di awal, Baqa menafikan ketiadaan di akhir, dan Mukhalafatu lil Hawaditsi menafikan keserupaan dengan makhluk, baik dalam bentuk fisik (jism) maupun sifat (aradh). Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 11: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sifat-sifat ini memutus segala imajinasi antropomorfisme (penyerupaan Tuhan dengan makhluk), karena Sang Pencipta Maha Suci dari dimensi ruang, waktu, dan arah, sebab semua itu adalah karakteristik makhluk yang baru.

وَأَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ سَبْعٌ: الْقُدْرَةُ، وَالْإِرَادَةُ، وَالْعِلْمُ، وَالْحَيَاةُ، وَالسَّمْعُ، وَالْبَصَرُ، وَالْكَلَامُ. وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللهِ تَعَالَى مُوجِبَةٌ لِأَحْكَامٍ زَائِدَةٍ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ الْمُمْكِنِ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَقَالَ أَيْضًا: وَعَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ. فَالْكَلَامُ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، بَلْ هُوَ كَلَامٌ نَفْسِيٌّ قَدِيمٌ يَلِيقُ بِذَاتِهِ الْمُقَدَّسَةِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Adapun Sifat Ma’ani berjumlah tujuh: Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Sifat-sifat ini adalah sifat eksistensial yang berdiri pada Zat Allah Swt yang melahirkan konsekuensi hukum tambahan. Qudrah adalah sifat azali untuk mewujudkan atau meniadakan hal yang mungkin (mumkinat) sesuai dengan Iradah. Iradah adalah sifat yang mengkhususkan hal yang mungkin dengan sebagian sifat yang boleh baginya. Ilmu adalah sifat yang menyingkap segala sesuatu sebagaimana adanya secara mutlak tanpa kemungkinan salah. Allah berfirman: Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah: 20). Dan firman-Nya: Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka (Al-Baqarah: 235). Kalam Allah bukanlah huruf maupun suara, melainkan Kalam Nafsi yang qadim yang layak bagi Zat-Nya yang suci.

وَيَتَمَّمُ الْعِقْدَ الصِّفَاتُ الْمَعْنَوِيَّةُ، وَهِيَ سَبْعٌ مُلَازِمَةٌ لِصِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى: قَادِرًا، وَمُرِيدًا، وَعَالِمًا، وَحَيًّا، وَسَمِيعًا، وَبَصِيرًا، وَمُتَكَلِّمًا. وَهَذِهِ الصِّفَاتُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِينَ هِيَ حَالٌ وَاجِبَةٌ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ، مُعَلَّلَةً بِصِفَاتِ الْمَعَانِي. فَلَا يُعْقَلُ أَنْ يَكُونَ قَادِرًا إِلَّا وَلَهُ قُدْرَةٌ، وَلَا عَالِمًا إِلَّا وَلَهُ عِلْمٌ. وَهَذَا التَّقْسِيمُ الدَّقِيقُ يَهْدِفُ إِلَى تَنْزِيهِ الْخَالِقِ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ وَإِثْبَاتِ كُلِّ كَمَالٍ يَلِيقُ بِهِ. فَمَنْ عَرَفَ اللهَ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ، اسْتَقَامَ لَهُ أَمْرُ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَامْتَلَأَ قَلْبُهُ هَيْبَةً وَتَعْظِيمًا لِرَبِّ الْعَالَمِينَ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Rangkaian ini disempurnakan oleh Sifat Ma’nawiyah, yaitu tujuh sifat yang menyertai sifat Ma’ani: Keberadaan Allah Swt sebagai Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berfirman. Sifat-sifat ini, menurut ulama muta’akhirin, adalah kondisi (hal) yang wajib bagi Zat selama Zat itu ada, yang disebabkan oleh adanya Sifat Ma’ani. Tidak masuk akal jika Allah disebut Yang Maha Kuasa tanpa memiliki sifat Kuasa, atau Yang Maha Mengetahui tanpa memiliki sifat Ilmu. Pembagian yang presisi ini bertujuan untuk mensucikan Sang Pencipta dari segala kekurangan dan menetapkan segala kesempurnaan yang layak bagi-Nya. Barangsiapa mengenal Allah