Ilmu Tauhid merupakan disiplin ilmu yang paling mulia dalam khazanah intelektual Islam karena objek kajiannya adalah Dzat Allah Swt. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar aktivitas kognitif untuk menghafal dua puluh sifat, melainkan sebuah upaya epistemologis untuk mengenal Sang Pencipta melalui dalil-dalil naqliyah yang absolut dan dalil aqliyah yang logis. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy-Ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika sifat wajib ini guna membentengi akidah umat dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta-thil (peniadaan sifat). Fondasi utama dalam memahami ketuhanan dimulai dari pengakuan atas eksistensi (Wujud) yang bersifat mutlak dan niscaya.

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Dalam Artikel

Terjemahan: Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahakudus, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa. Dia memiliki nama-nama yang terbaik. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Hasyr: 23-24). Syarah: Ayat ini merupakan deklarasi ontologis tentang keagungan Dzat Allah. Sifat Wujud Allah adalah Wujud Dzati, yang artinya keberadaan-Nya tidak membutuhkan penyebab lain (mujid). Berbeda dengan alam semesta yang wujudnya bersifat mumkin (mungkin ada dan mungkin tidak ada), Allah adalah Wajib al-Wujud. Sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini, seperti Al-Quddus, menunjukkan kesucian-Nya dari segala kekurangan yang melekat pada makhluk.

Setelah menetapkan Wujud, akal sehat meniscayakan bahwa Allah tidak memiliki permulaan (Qidam) dan tidak memiliki akhir (Baqa). Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia adalah makhluk yang membutuhkan pencipta, dan ini mustahil secara logika ketuhanan. Ketidakterikatan Allah pada dimensi ruang dan waktu ditegaskan secara eksplisit dalam teks wahyu sebagai berikut:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالَّظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3). Syarah: Nama Al-Awwal dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai Al-Qadim, yaitu Dzat yang keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu tanpa ada titik awal. Sedangkan Al-Akhir bermakna Al-Baqi, yaitu Dzat yang tetap ada setelah seluruh makhluk binasa. Sifat Qidam dan Baqa ini membedakan secara total antara Khaliq dan makhluq. Allah tidak terpengaruh oleh hukum perubahan (taghayyur) karena perubahan adalah ciri khas dari sesuatu yang baru (hadits). Oleh karena itu, Allah mustahil mengalami kepunahan atau perubahan keadaan.

Prinsip dasar dalam akidah tanzih adalah meyakini bahwa Allah berbeda secara total dari segala sesuatu yang baru diciptakan. Sifat ini disebut Mukhalafatu lil Hawaditsi. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam dzat, sifat, maupun perbuatan. Penolakan terhadap antropomorfisme (tajsim) adalah harga mati dalam teologi Islam yang murni. Segala gambaran yang terlintas dalam benak manusia mengenai bentuk Allah adalah batil, karena pikiran manusia hanya mampu menjangkau hal-hal yang bersifat materi dan terbatas.

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Terjemahan: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11). Syarah: Kalimat Laisa Kamitslihi Syaiun adalah kaidah emas dalam ilmu akidah. Huruf Kaf pada kata Kamitslihi berfungsi sebagai taukid (penguat) untuk meniadakan segala bentuk keserupaan. Meskipun Allah menyebutkan bahwa Dia Mendengar dan Melihat, namun pendengaran dan penglihatan Allah tidak menggunakan instrumen biologis seperti telinga atau mata. Pendengaran Allah bersifat mutlak, menjangkau segala suara tanpa perantara gelombang udara, dan penglihatan Allah menjangkau segala objek tanpa bantuan cahaya. Inilah yang disebut sebagai sifat salbiyyah, yaitu sifat yang menafikan hal-hal yang tidak layak bagi Allah.