Mengenal Allah Swt atau yang sering disebut dengan Ma rifatullah merupakan fondasi utama dalam bangunan keimanan seorang Muslim. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Pencipta, seluruh amal ibadah kehilangan pijakan teologisnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam madzhab Asy ariyah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sifat-sifat wajib bagi Allah sebagai sarana sistematis untuk memahami keagungan-Nya. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas zat-Nya dalam arti fisik, melainkan atribut yang secara aksiomatik harus ada pada zat yang bersifat Wajib al-Wujud. Kajian ini akan membedah dimensi-dimensi sifat tersebut dengan pendekatan teks klasik dan rasionalitas yang mendalam.
TEKS ARAB BLOK 1
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . وَالْوُجُودُ هُوَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الَّتِي لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ عَدَمَهَا لِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى . فَهُوَ سُبْحَانَهُ مَوْجُودٌ بِذَاتِهِ لَا بِمُوجِدٍ أَوْجَدَهُ وَلَا بِعِلَّةٍ أَحْدَثَتْهُ بَلْ وُجُودُهُ وَاجِبٌ عَقْلًا وَنَقْلًا
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Sifat Wujud merupakan sifat nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri yang mana akal tidak dapat membayangkan ketiadaan bagi zat Allah Ta ala. Dia Mahasuci, ada dengan zat-Nya sendiri, bukan karena ada yang mewujudkan-Nya, bukan pula karena sebab yang mengadakan-Nya. Sebaliknya, keberadaan-Nya adalah wajib secara akal dan dalil wahyu. Dalam analisis mufassir, sifat Wujud ini menjadi pembatal bagi faham ateisme dan nihilisme. Allah adalah Al-Haqq, yang keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu yang bersifat mungkin (mumkinat).
TEKS ARAB BLOK 2
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . وَالْقِدَمُ هُوَ عَدَمُ افْتِتَاحِ الْوُجُودِ وَالْبَقَاءُ هُوَ عَدَمُ اخْتِتَامِ الْوُجُودِ . فَكُلُّ مَا سِوَى اللَّهِ حَادِثٌ مَسْبُوقٌ بِالْعَدَمِ وَمَلْحُوقٌ بِالْفَنَاءِ أَمَّا اللَّهُ تَعَالَى فَقَدِيمٌ أَزَلِيٌّ بَاقٍ أَبَدِيٌّ لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3). Sifat Qidam (Dahulu) berarti ketiadaan awal bagi keberadaan-Nya, dan Baqa (Kekal) berarti ketiadaan akhir bagi keberadaan-Nya. Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang baru (hadits), didahului oleh ketiadaan dan akan diakhiri oleh kepunahan. Adapun Allah Ta ala, maka Dia Maha Dahulu secara azali dan Maha Kekal secara abadi, tidak akan punah dan tidak akan binasa. Secara filosofis, ini menegaskan bahwa Allah berada di luar dimensi waktu yang merupakan makhluk-Nya. Jika Allah memiliki awal, maka Dia membutuhkan pencipta, dan itu mustahil bagi Tuhan.

