Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang menuntut setiap mukalaf untuk mengenal Tuhannya dengan pengenalan yang pasti (makrifat). Para ulama mutakallimin, khususnya dalam madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematisasi sifat-sifat Allah ke dalam kategori wajib, mustahil, dan jaiz guna menjaga kemurnian akidah dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Sifat wajib bagi Allah bukanlah tambahan atas zat-Nya dalam makna yang terpisah, melainkan sifat-sifat yang secara rasional dan tekstual harus ada pada Zat Yang Maha Suci demi tegaknya status ketuhanan yang sempurna. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perjalanan intelektual dan spiritual untuk memahami posisi makhluk di hadapan Sang Khalik.
الْأَوَّلُ مِنْ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى الْوُجُودُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ إِبْرَاهِيمَ: أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. وَهَذَا الْوُجُودُ وَاجِبٌ لِذَاتِهِ لَا عَنْ عِلَّةٍ خَارِجِيَّةٍ بَلْ هُوَ سُبْحَانَهُ وَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذِي يَفْتَقِرُ إِلَيْهِ كُلُّ مَا سِوَاهُ وَلَا يَفْتَقِرُ هُوَ إِلَى شَيْءٍ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sifat pertama yang wajib bagi Allah Swt adalah Al-Wujud (Ada). Dalam klasifikasi teologis, Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan keberadaan zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Secara rasional, akal sehat tidak mungkin membayangkan adanya alam semesta yang teratur ini tanpa adanya Sang Pencipta yang memiliki eksistensi nyata. Dalil naqli yang mendasarinya adalah firman Allah dalam Surah Ibrahim: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Ayat ini menggunakan pertanyaan retoris untuk menegaskan bahwa keberadaan Allah adalah kebenaran aksiomatik (dharuri). Keberadaan Allah bersifat Wajib al-Wujud, artinya Allah ada dengan sendirinya tanpa memerlukan pencipta lain (causa prima), berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bersifat Mumkin al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tiada).
ثُمَّ تَلِيهَا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ وَمَعْنَى الْبَقَاءِ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Setelah Wujud, terdapat Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Kelima sifat tersebut adalah Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 3: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Makna Al-Awwal di sini adalah Qidam, yakni Allah telah ada sebelum segala sesuatu ada tanpa didahului oleh ketiadaan. Sedangkan Al-Akhir berarti Baqa, yakni Allah tetap ada setelah segala sesuatu binasa. Sifat Salbiyah ini secara filosofis meruntuhkan argumen tasalsul (mata rantai tanpa akhir) dan dawr (lingkaran setan penciptaan), serta menegaskan bahwa Allah tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu yang merupakan makhluk ciptaan-Nya.
وَمِنْ أَعْظَمِ الصِّفَاتِ صِفَةُ الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَهَذِهِ الْآيَةُ أَصْلٌ فِي تَنْزِيهِ اللهِ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالْمَكَانِ. فَكُلُّ مَا خَطَرَ بَبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ لِأَنَّ الْخَاطِرَ مَخْلُوقٌ وَالْمَخْلُوقُ لَا يُحِيطُ بِالْخَالِقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Salah satu pilar utama dalam akidah adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi, yaitu ketidakserupaan Allah dengan makhluk-Nya. Allah berfirman dalam Surah Ash-Shura ayat 11: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ayat ini mengandung dua aspek: tanzih (penyucian) dan itsbat (penetapan). Kalimat Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia memutus segala bentuk antropomorfisme (tajsim) atau membayangkan Allah memiliki organ tubuh, arah, atau tempat. Para ulama salaf dan khalaf sepakat bahwa apa pun yang terlintas dalam benakmu tentang bentuk Allah, maka Allah tidaklah seperti itu. Hal ini karena akal manusia terbatas pada ruang lingkup empiris, sedangkan Zat Allah bersifat absolut dan tidak terjangkau oleh indra maupun imajinasi makhluk yang terbatas.
أَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللهِ تَعَالَى وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ تُؤَثِّرُ فِي الْمُمْكِنَاتِ بِالْإِيجَادِ وَالْإِعْدَامِ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Kelompok ketiga adalah Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang menetap pada Zat Allah yang memberikan dampak pada alam semesta. Sifat-sifat tersebut adalah Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 82: Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia. Di sini, Qudrah berperan mengeksekusi penciptaan atau peniadaan, sementara Iradah berperan menentukan spesifikasi makhluk (seperti waktu, tempat, dan rupa). Keterkaitan antara Qudrah dan Iradah menunjukkan betapa sistematisnya pengaturan ketuhanan di mana tidak ada satu atom pun yang bergerak di jagat raya ini melainkan atas kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya yang didasari oleh Ilmu-Nya yang tak terbatas.

