Mengenal Allah Swt merupakan kewajiban primordial bagi setiap mukallaf sebelum ia menjalankan syariat-Nya. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, pemahaman mengenai sifat-sifat Allah dirumuskan secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Sifat-sifat wajib ini bukanlah zat itu sendiri, namun ia adalah sifat yang melekat pada Zat Yang Maha Suci, yang secara akal tidak mungkin ditiadakan. Memahami sifat-sifat ini menuntut kedalaman nalar aqliyah yang disinari oleh cahaya wahyu naqliyah, sehingga melahirkan keyakinan yang kokoh dan tidak tergoyahkan oleh syubhat zaman.
Sifat pertama yang menjadi fondasi utama adalah Wujud. Secara ontologis, keberadaan Allah adalah Wajib al-Wujud, yakni keberadaan yang menjadi niscaya bagi dirinya sendiri dan menjadi sebab bagi keberadaan seluruh alam semesta. Allah ada tanpa didahului oleh tiada, dan keberadaan-Nya bersifat mutlak.
فَأَمَّا الْوُجُودُ فَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْحَالُ الْوَاجِبَةُ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ. وَالدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى حُدُوثُ الْعَالَمِ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ لِكُلِّ حَادِثٍ مِنْ مُحْدِثٍ، وَالْعَالَمُ حَادِثٌ لِتَغَيُّرِهِ، فَإِذًا لَهُ مُحْدِثٌ وَهُوَ اللهُ تَعَالَى الْوَاجِبُ وُجُودُهُ لِذَاتِهِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Adapun Wujud merupakan sifat Nafsiyah, yaitu keadaan yang wajib bagi Zat selama Zat tersebut ada tanpa disebabkan oleh suatu sebab apa pun. Dalil atas keberadaan Allah Ta’ala adalah kebaruan alam semesta (huduts al-alam). Secara logika formal, setiap sesuatu yang baru (hadits) pasti membutuhkan pencipta (muhdits). Alam semesta ini bersifat baru karena senantiasa berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lain, dan setiap yang berubah pasti memiliki permulaan. Maka, secara niscaya, alam ini memiliki Pencipta, yaitu Allah Ta’ala yang keberadaan-Nya bersifat wajib bagi Zat-Nya sendiri, bukan karena diciptakan oleh entitas lain.
Setelah menetapkan Wujud, maka secara otomatis akal akan menetapkan sifat Qidam (Terdahulu) dan Baqa’ (Kekal). Allah Swt tidak memiliki titik awal bagi keberadaan-Nya dan tidak memiliki titik akhir bagi eksistensi-Nya. Jika Allah memiliki permulaan, maka Ia akan membutuhkan pencipta lain, yang akan berujung pada tasalsul (mata rantai tak berujung) atau dawr (lingkaran setan), yang keduanya mustahil secara akal.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَمَعْنَى الْقِدَمِ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ. فَكُلُّ مَا ثَبَتَ قِدَمُهُ اسْتَحَالَ عَدَمُهُ، وَاللهُ تَعَالَى قَدِيمٌ فَلَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ، بَلْ هُوَ الْبَاقِي الدَّائِمُ الَّذِي لَا يَعْتَرِيهِ زَوَالٌ وَلَا انْتِقَالٌ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Makna Qidam adalah ketiadaan sifat didahului oleh tiada atas keberadaan-Nya. Sedangkan makna Baqa’ adalah ketiadaan sifat diakhiri oleh tiada atas keberadaan-Nya. Secara kaidah teologis, segala sesuatu yang telah tetap sifat qidam-nya, maka mustahil ia akan mengalami ketiadaan (عدم). Allah Ta’ala Maha Dahulu, maka Ia tidak akan pernah fana dan tidak akan pernah binasa. Ia adalah Zat Yang Maha Kekal yang tidak dipengaruhi oleh perubahan waktu, tidak mengalami perpindahan tempat, dan tidak tersentuh oleh kepunahan yang lazim terjadi pada makhluk.
Sifat selanjutnya yang sangat krusial dalam menjaga kemurnian Tauhid adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi. Sifat ini menegaskan bahwa Allah Swt sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, baik dalam Zat, Sifat, maupun Perbuatan. Allah bukan materi (jirm), bukan sifat benda (aradh), tidak bertempat, dan tidak berpihak. Segala gambaran yang terlintas dalam benak manusia mengenai Allah, maka Allah tidaklah seperti itu.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَاللَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِسْمٍ مُصَوَّرٍ، وَلَا جَوْهَرٍ مَحْدُودٍ مُقَدَّرٍ، وَلَا يُشْبِهُ الْأَجْسَامَ لَا فِي التَّقْدِيرِ وَلَا فِي قَبُولِ الِانْقِسَامِ. وَلَا هُوَ جَوْهَرٌ وَلَا تَحُلُّهُ الْأَعْرَاضُ، بَلْ لَا يُشْبِهُ مَوْجُودًا وَلَا يُشْبِهُهُ مَوْجُودٌ، تَقَدَّسَ عَنِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْجِهَاتِ السِّتِّ وَعَنْ سَائِرِ صِفَاتِ الْحَدَثِ.

