Tauhid bukan sekadar dogma teologis yang bersifat statis, melainkan sebuah pandangan dunia (worldview) yang mengatur pola pikir, etika, dan eksistensi manusia secara menyeluruh. Di tengah gelombang modernisasi yang ditandai oleh rasionalisme ekstrem, sekularisasi, dan disrupsi teknologi, pemurnian akidah menjadi sebuah keniscayaan hermeneutis dan praktis. Kehidupan modern sering kali mengikis kesadaran transendental dan menggantikannya dengan bentuk-bentuk kemusyrikan baru yang lebih terselubung, seperti deifikasi materi, pemujaan ego, serta ketergantungan mutlak pada sebab-sebab material semata. Oleh karena itu, mengembalikan tauhid sebagai fondasi kehidupan merupakan langkah epistemologis utama untuk merebut kembali hakikat kemanusiaan yang terasing dari Penciptanya.

Dalam konteks Tauhid Rububiyyah, modernisme sering menjerumuskan manusia pada pandangan bahwa alam semesta berjalan secara mekanis tanpa campur tangan Ilahi. Teks Al-Quran menegaskan hakikat kekuasaan mutlak Allah atas seluruh eksistensi:

Dalam Artikel

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ ۞ لَهُ مَفَاتِيحُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Terjemahan dan Analisis Tafsir: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. Milik-Nyalah kunci-kunci langit dan bumi. Dan orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Az-Zumar: 62-63). Implikasi Hermeneut