Ilmu Tauhid atau Ushuluddin merupakan fondasi tertinggi dalam tata bangunan keilmuan Islam. Para ulama mutakallimun (ahli ilmu kalam) menegaskan bahwa kewajiban utama seorang mukallaf secara rasional dan syar'i adalah mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) dengan keyakinan yang mantap dan terbebas dari taklid buta. Pemahaman mendalam mengenai Sifat-Sifat Wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi metafisika yang menyelaraskan antara dalil naqli (wahyu Al-Quran dan Hadits) dengan dalil 'aqli (rasionalitas murni). Tradisi Asy'ariyyah dan Maturidiyyah merumuskan sistematika Sifat Dua Puluh sebagai metodologi pembacaan sifat-sifat keilahian agar umat terhindar dari dua jurang ekstrem: tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan ta'thil (pengabaian atau pemangkasan sifat-sifat Tuhan).

Dalam kerangka metodologis ilmu kalam, sifat wajib yang pertama adalah Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud. Keberadaan Allah Swt bersifat mutlak (Wajib al-Wujud), yang menandakan bahwa eksistensi-Nya tidak didahului oleh ketidakadaannya dan tidak membutuhkan faktor eksternal yang mengadakannya. Prinsip ontologis ini menjadi dasar bagi seluruh sifat keilahian lainnya.

Dalam Artikel

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۢ فَٱعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ وَكِيلٌ

Terjemahan dan Syarah Akidah:

Dialah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 102)

Secara hermeneutika teologis, ayat ini menegaskan posisi Allah Swt sebagai Khalik al-Kulli (Pencipta Segala Sesuatu). Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa klausa "Khaliq kulli syai'in" secara logis meniscayakan bahwa Sang Pencipta haruslah berbeda secara absolut dari apa yang diciptakan-Nya. Wujud Allah adalah Wujud Dhati (keberadaan hakiki yang berdiri sendiri), sedangkan wujud alam semesta adalah Wujud Aradhi atau Mumkin al-Wujud (keberadaan yang bergantung pada kehendak-Nya). Pembuktian ini menggunakan logika kausalitas (burhan al-imkan wal huduts): setiap hal yang baru (hadits) membutuhkan pencipta (muhdits), dan rantai sebab-musabab harus berhenti pada Suatu Sebab Utama yang Wajib al-Wujud, yaitu Allah Swt.

Setelah memahami Sifat Nafsiyah, bangunan akidah Islam mengarahkan kita pada Sifat-sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat-sifat yang berfungsi meniadakan segala prasangka atau atribut kelemahan yang tidak layak bagi kemuliaan Allah Swt. Sifat-sifat ini mencakup Qidam (Maha Terdahulu), Baqa' (Maha Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dari Makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), dan Wahdaniyah (Maha Esa). Di antara sifat-sifat salbiyah ini, prinsip penyerupaan (tasybih) ditolak secara tegas melalui pemurnian kesucian (tanzih).

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan dan Syarah Akidah: