Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khaliq (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Dalam tradisi pemikiran Islam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, para ulama telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah guna memagari akidah umat dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) maupun ta’thil (meniadakan sifat Allah). Sifat-sifat wajib bagi Allah bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perangkat epistemologis untuk memahami hakikat ketuhanan yang absolut melalui pendekatan dalil naqli yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits, serta dalil aqli yang berpijak pada logika sehat. Kajian ini akan membedah secara komprehensif klasifikasi sifat-sifat tersebut, mulai dari sifat Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, hingga Ma’nawiyyah, guna menyingkap tabir keagungan-Nya.

Penjelasan pertama mengenai sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri, yang mana akal tidak dapat membayangkan adanya zat tanpa adanya sifat tersebut. Sifat ini terangkum dalam sifat Wujud (Ada). Keberadaan Allah adalah keberadaan yang bersifat dhati (esensial), bukan karena diciptakan atau diadakan oleh pihak lain. Allah adalah Wajibul Wujud, yang eksistensi-Nya menjadi sebab bagi keberadaan seluruh alam semesta.

Dalam Artikel

أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ. وَالْوُجُودُ هُوَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الَّتِي لَا يُمْكِنُ تَعَقُّلُ الذَّاتِ بِدُونِهَا وَهُوَ لِلَّهِ تَعَالَى وَاجِبٌ لِذَاتِهِ لَا لِعِلَّةٍ خَارِجِيَّةٍ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkanmu sampai waktu yang ditentukan (QS. Ibrahim: 10). Dalam tinjauan teologis, sifat Wujud bagi Allah adalah sifat Nafsiyyah yang meniscayakan eksistensi Zat-Nya secara mutlak. Para ulama menjelaskan bahwa wujud Allah tidak didahului oleh tiada (adam) dan tidak akan diakhiri oleh tiada. Hal ini membedakan wujud Sang Pencipta dengan wujud makhluk yang bersifat mumkinul wujud (boleh ada dan boleh tidak ada). Secara aqli, keteraturan alam semesta ini merupakan dalil qath’i bahwa ada Pengatur yang Wujud, sebab mustahil sebuah tatanan yang rumit muncul dari ketiadaan atau terjadi dengan sendirinya tanpa ada penggerak utama (The First Cause).

Selanjutnya, kita memasuki ranah sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk menafikan atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sifat-sifat ini meliputi Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawadithi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Fokus utama dalam sifat Salbiyyah adalah menyucikan Allah dari segala bentuk keterbatasan ruang, waktu, dan komposisi materi.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَمَعْنَى الْقِدَمِ فِي حَقِّهِ تَعَالَى عَدَمُ افْتِتَاحِ الْوُجُودِ وَمَعْنَى الْبَقَاءِ عَدَمُ اخْتِتَامِ الْوُجُودِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الزَّمَانِ وَالْحَدَثَانِ وَكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللَّهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Ayat ini merupakan landasan utama bagi sifat Qidam dan Baqa. Qidam bagi Allah berarti tidak ada permulaan bagi keberadaan-Nya, sedangkan Baqa berarti tidak ada kesudahan bagi-Nya. Syarah atas sifat ini menegaskan bahwa Allah tidak terikat oleh dimensi waktu, karena waktu adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Begitu pula dengan prinsip Mukhalafatu lil Hawadithi, yang menegaskan bahwa Allah tidak menyerupai apapun dalam hal zat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Setiap gambaran yang terlintas dalam benak manusia mengenai bentuk atau rupa Allah, maka Allah dipastikan berbeda dari gambaran tersebut, karena akal manusia hanya mampu mengabstraksi hal-hal yang bersifat materi dan terbatas.

Kajian berikutnya menyentuh sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang ada pada zat Allah yang memberikan pengaruh atau dampak pada mahluk-Nya. Sifat-sifat ini terdiri dari Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Sifat Ma’ani menggambarkan kesempurnaan Allah dalam berinteraksi dengan alam semesta dan mengatur segala ihwal makhluk-Nya secara presisi.

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ انْكِشَافاً لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.