Ilmu Tauhid atau yang sering disebut sebagai Ilmu Kalam merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai siapa Tuhan yang disembah, maka seluruh amal ibadah akan kehilangan pijakan ontologisnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah Swt melalui sifat-sifat yang wajib bagi-Nya. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada Dzat Allah Swt. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perjalanan intelektual dan spiritual untuk mengakui keagungan Sang Pencipta di tengah keterbatasan makhluk. Kajian ini akan membedah beberapa sifat utama yang menjadi pilar dalam memahami ketuhanan secara mendalam, dengan merujuk pada dalil naqli dari Al-Quran serta argumentasi rasional yang kokoh.
Penjelasan Sifat Wujud: Sifat pertama yang harus diyakini adalah Wujud (Ada). Secara logika, adanya alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi tanpa adanya pencipta yang mewujudkannya. Allah Swt adalah Wajib al-Wujud, yakni Dzat yang keberadaannya bersifat niscaya dan tidak didahului oleh ketiadaan. Berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tidak ada), keberadaan Allah adalah mutlak dan menjadi sumber bagi segala eksistensi lainnya.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ. يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ. ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ.
Terjemahan dan Syarah: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. As-Sajdah: 4-6). Ayat ini menegaskan eksistensi Allah melalui karya ciptaan-Nya. Syarah teologisnya menjelaskan bahwa keteraturan dalam penciptaan (nidzam al-khalq) adalah bukti nyata akan adanya Pencipta yang Maha Bijaksana. Wujud Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu, karena Dialah yang menciptakan ruang dan waktu tersebut.
Penjelasan Sifat Qidam dan Baqa: Setelah meyakini keberadaan-Nya, seorang mukmin harus memahami bahwa Allah Swt bersifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan ini akan menyebabkan rantai penciptaan yang tidak berujung (tasalsul) yang secara logika mustahil. Demikian pula, jika Allah memiliki akhir, maka Dia bersifat fana seperti makhluk. Oleh karena itu, Allah adalah Dzat yang Azali dan Abadi.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.
Terjemahan dan Syarah: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 3-4). Dalam perspektif tafsir isyari dan kalam, Al-Awwal bermakna Qidam, yaitu keberadaan yang tidak didahului oleh ketiadaan (adam). Al-Akhir bermakna Baqa, yaitu keberadaan yang tidak diakhiri oleh ketiadaan. Sifat ini memisahkan secara tegas antara Sang Khaliq yang absolut dengan makhluk yang temporal.
Penjelasan Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi: Salah satu prinsip fundamental dalam akidah Islam adalah Tanzih, yaitu mensucikan Allah dari segala keserupaan dengan makhluk. Sifat ini disebut Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan hal-hal yang baru). Allah tidak memiliki anggota tubuh, tidak menempati ruang, dan tidak terikat oleh dimensi fisik. Segala bayangan yang terlintas dalam pikiran manusia mengenai bentuk Allah, maka Allah tidaklah seperti itu.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ.

