Dalam diskursus ilmu kalam, fiqih ibadah, dan tasawuf, niat menduduki posisi episentrum yang menentukan sah atau batalnya suatu amal, serta bernilai atau tidaknya suatu perbuatan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ibadah secara lahiriah yang megah dapat sirna nilainya apabila fondasi internalnya, yakni ikhlas, mengalami kontaminasi epistemologis maupun praktis oleh penyakit riya', sum'ah, dan 'ujub. Kajian ini secara ilmiah mendalam akan membedah teks-teks otentik Al-Quran, hadis-hadis sahih, serta penetrasi makna dari para ulama mu'tabar guna memetakan anatomi ikhlas dan dampaknya terhadap keabsahan ibadah seorang mukmin.
Sebagaimana ditegaskan dalam fondasi syariat Al-Quran, tauhid tidak hanya sekadar pengakuan lisan, melainkan pemurnian ketaatan yang mutlak hanya ditujukan kepada Sang Pencipta semata.
وَمَٓا أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَٓاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ. وَقَالَ الْإِمَامُ إِبْنُ كَثِيْرٍ فِي تَفْسِيْرِهِ: وَقَوْلُهُ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَقَوْلِهِ وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكِ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ.
Tafsir dan Syarah Blok 1:
Ayat tersebut (Surah Al-Bayyinah ayat 5) menegaskan bahwa seluruh syariat terdahulu hingga syariat Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam berporos pada satu perintah inti: menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya secara hunafa (lurus dan berpaling dari kesyirikan). Imam Ibn Kathir dalam mahakarya tafsirnya, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, menjelaskan bahwa frasa mukhlisina lahud-din berkolerasi langsung dengan asas risalah para rasul terdahulu. Secara linguistik, mukhlis berasal dari kata khalashah yang berarti murni, bersih dari segala bentuk campuran. Maka, ibadah yang dicampuri oleh tujuan-tujuan duniawi atau pujian makhluk secara otomatis keluar dari kualifikasi ikhlas yang diperintahkan dalam ayat ini.
Kendati demikian, bahaya laten yang sering kali merusak pemurnian niat adalah syirik kecil atau riya', yang pergerakannya sangat halus di dalam hati manusia.
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.
Tafsir dan Syarah Blok 2:
Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dengan sanad yang sahih dari sahabat Mahmud bin Labid Radhiyallahu 'Anhu. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menamai riya' sebagai al-syirk al-asghar (syirik kecil). Penamaan ini menunjukkan betapa destruktifnya riya' terhadap nilai spiritual suatu amal. Syarah dari hadis ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolak amal orang-orang yang berbuat riya' dan menyuruh mereka meminta balasan kepada manusia yang dahulu mereka harapkan pujiannya. Dari sudut pandang ushul fiqih, hadis ini menjadi dalil bahwa amal yang disertai riya' sejak awal hukumnya gugur (buthlan) dan tidak mendatangkan pahala sedikit pun di akhirat.

