Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa landasan akidah yang kokoh, seluruh amal ibadah akan kehilangan porosnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah Swt melalui sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Pendekatan ini bukanlah sebuah inovasi yang mengada-ada, melainkan sebuah ikhtiar ilmiah untuk memetakan pemahaman akal manusia agar selaras dengan wahyu. Mengenal Allah atau ma'rifatullah adalah kewajiban pertama bagi setiap mukallaf, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai teks otoritatif bahwa awal mula agama adalah mengenal Sang Pencipta dengan segala kesempurnaan-Nya yang mutlak.
أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ شَرْعًا هُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى بِصِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ وَالْمُسْتَحِيْلَةِ وَالْجَائِزَةِ. وَالْمَعْرِفَةُ هِيَ الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيْلٍ. فَالصِّفَاتُ الْوَاجِبَةُ عِشْرُوْنَ صِفَةً تَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: نَفْسِيَّةٌ وَسَلْبِيَّةٌ وَمَعَانٍ وَمَعْنَوِيَّةٌ. فَكُلُّ صِفَةٍ مِنْ هَذِهِ الصِّفَاتِ تَنْفِي عَنِ اللهِ مَا لَا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ وَتُثْبِتُ لَهُ كَمَالَ الذَّاتِ وَالْفِعْلِ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam:
Kewajiban pertama bagi setiap individu yang telah terbebani syariat (mukallaf) secara hukum agama adalah mengenal Allah Ta'ala melalui sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz (mungkin). Yang dimaksud dengan ma'rifah (mengenal) di sini adalah keyakinan yang mantap, yang sesuai dengan realitas, dan didasarkan pada dalil atau argumen yang kuat. Sifat-sifat wajib bagi Allah yang berjumlah dua puluh ini diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama. Pertama, Sifat Nafsiyah yang berkaitan dengan zat Allah itu sendiri (Wujud). Kedua, Sifat Salbiyah yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah (Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaniyah). Ketiga, Sifat Ma'ani yang merupakan sifat-sifat eksistensial pada zat Allah (Qudrah, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama', Bashar, Kalam). Keempat, Sifat Ma'nawiyah yang merupakan konsekuensi logis dari Sifat Ma'ani tersebut. Pemahaman ini berfungsi sebagai perisai dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat Allah).
الْوُجُوْدُ هُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ الْعَلِيَّةَ بِدُوْنِهَا. وَدَلِيْلُ وُجُوْدِهِ سُبْحَانَهُ هُوَ هَذَا الْعَالَمُ الْمُتَغَيِّرُ، فَكُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ. ثُمَّ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، فَالْقِدَمُ يَعْنِي أَنَّهُ لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُوْدِهِ، وَالْبَقَاءُ يَعْنِي أَنَّهُ لَا انْتِهَاءَ لِوُجُوْدِهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ. فَالْأَوَّلُ بِلَا ابْتِدَاءٍ وَالْآخِرُ بِلَا انْتِهَاءٍ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam:
Wujud (Ada) adalah sifat nafsiyah, di mana akal tidak mungkin menggambarkan adanya Zat Yang Maha Tinggi tanpa adanya sifat ini. Dalil rasional atas keberadaan Allah adalah adanya alam semesta yang selalu berubah ini; sebab setiap sesuatu yang baru (hadits) pasti membutuhkan pencipta (muhdits). Selanjutnya adalah sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa (Kekal). Qidam berarti keberadaan Allah tidak didahului oleh ketiadaan, sedangkan Baqa berarti keberadaan-Nya tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 3: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Penafsiran mendalam atas ayat ini menunjukkan bahwa Al-Awwal berarti ada tanpa permulaan, dan Al-Akhir berarti ada tanpa penghabisan. Ini membedakan secara mutlak antara Sang Pencipta yang bersifat azali dengan makhluk yang bersifat temporal.
وَمِنْ أَعْظَمِ الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ هِيَ الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، أَيْ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ جِسْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. وَكَذَلِكَ الْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، فَلَا شَرِيْكَ لَهُ فِي مُلْكِهِ وَلَا مُعِيْنَ لَهُ فِي صُنْعِهِ. فَسُبْحَانَ مَنْ تَنَزَّهَ عَنِ الشَّبِيْهِ وَالنَّظِيْرِ وَتَقَدَّسَ عَنِ الصَّاحِبَةِ وَالْوَزِيْرِ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam:

