Puasa atau Ash-Shiyam secara ontologis bukan sekadar penahanan diri dari rasa lapar dan dahaga, melainkan sebuah manifestasi ketaatan yang terikat oleh batasan-batasan hukum yang rigid dalam diskursus fiqih. Para fuqaha dari empat madzhab besar, yakni Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, Ash-Shafi'iyyah, dan Al-Hanabilah, telah merumuskan kodifikasi hukum yang sangat detail mengenai apa yang membangun keabsahan ibadah ini. Pemahaman mendalam mengenai syarat dan rukun menjadi keniscayaan bagi setiap mukallaf agar ibadah yang dijalankan tidak terjebak dalam formalitas tanpa legalitas syar'i. Artikel ini akan membedah secara saintifik-keagamaan mengenai pilar-pilar tersebut dengan merujuk pada teks-teks otoritatif dalam khazanah turats Islam, serta meninjau perbedaan metodologis di antara para imam mujtahid dalam menetapkan kriteria sahnya puasa.
Dalam diskursus fiqih, pembedaan antara rukun dan syarat sangatlah fundamental. Rukun adalah bagian internal dari ibadah itu sendiri, sedangkan syarat adalah hal-hal eksternal yang harus terpenuhi sebelum atau selama ibadah berlangsung. Berikut adalah uraian mendalam mengenai elemen-elemen tersebut.
الرُّكْنُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْجَانِبُ الْأَقْوَى مِنَ الشَّيْءِ، وَفِي الِاصْطِلَاحِ مَا لَا وُجُودَ لِلشَّيْءِ إِلَّا بِهِ وَكَانَ جُزْءًا مِنْ مَاهِيَّتِهِ. وَأَمَّا الصَّوْمُ فَهُوَ فِي الشَّرْعِ عِبَارَةٌ عَنْ إِمْسَاكٍ مَخْصُوصٍ، عَنْ أَشْيَاءَ مَخْصُوصَةٍ، فِي زَمَنٍ مَخْصُوصٍ، مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ، بِشَرَائِطَ مَخْصُوصَةٍ. وَأَرْكَانُهُ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ اثْنَانِ: النِّيَّةُ وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Secara etimologi, rukun berarti sisi yang paling kuat dari sesuatu. Secara terminologi fiqih, rukun adalah sesuatu yang menentukan keberadaan hukum dan ia merupakan bagian dari esensi perbuatan tersebut. Puasa menurut syariat didefinisikan sebagai penahanan diri secara khusus, dari hal-hal yang khusus, pada waktu yang khusus, dari orang yang memenuhi kriteria khusus, dengan syarat-syarat yang khusus pula. Mayoritas ulama (Jumhur) menetapkan bahwa rukun puasa ada dua: Niat dan Al-Imsak (menahan diri dari segala pembatal). Tanpa kehadiran keduanya, maka secara ontologis puasa tersebut dianggap tidak ada atau batal demi hukum.
لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ. وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي كَوْنِ النِّيَّةِ رُكْنًا أَوْ شَرْطًا، فَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا رُكْنٌ، بَيْنَمَا ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا شَرْطٌ لِأَنَّهَا عَمَلٌ قَلْبِيٌّ خَارِجٌ عَنْ مَاهِيَّةِ الْإِمْسَاكِ. وَيُشْتَرَطُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ التَّبْيِيتُ لِكُلِّ لَيْلَةٍ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ، وَالتَّعْيِينُ بِأَنْ يَنْوِيَ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Tidak ada puasa bagi orang yang tidak memalamkan niatnya (tabyit). Para ahli fiqih berbeda pendapat apakah niat merupakan rukun atau syarat. Madzhab Syafi'i dan Maliki memandangnya sebagai rukun karena ia menyatu dengan ibadah. Sebaliknya, Madzhab Hanafi menganggapnya sebagai syarat karena niat adalah aktivitas hati yang mendahului perbuatan fisik. Dalam Madzhab Syafi'i, niat harus dilakukan setiap malam untuk puasa wajib (tabyit) dan harus ditentukan jenis puasanya (ta'yin), seperti meniatkan puasa esok hari untuk menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala. Hal ini didasarkan pada prinsip kehati-hatian agar setiap hari ibadah memiliki legalitas niat yang independen.
وَالرُّكْنُ الثَّانِي هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنْ جَمِيعِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ. وَالْمُفْطِرَاتُ هِيَ كُلُّ مَا دَخَلَ إِلَى الْجَوْفِ مِنْ مَنْفَذٍ مَفْتُوحٍ عَمْدًا، وَالْجِمَاعُ، وَالِاسْتِقَاءَةُ عَمْدًا. وَقَدْ حَدَّدَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ هَذَا الْوَقْتَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ.

