Puasa merupakan salah satu pilar fundamental dalam struktur ibadah Islam yang tidak hanya mencakup dimensi esoteris-spiritual, tetapi juga memiliki landasan eksoteris-yuridis yang sangat ketat. Dalam diskursus fiqih klasik, para fuqaha dari empat madzhab besar telah merumuskan kodifikasi hukum yang sangat detail mengenai apa yang membangun keabsahan puasa. Pemahaman yang mendalam mengenai syarat dan rukun puasa menjadi mutlak diperlukan bagi setiap mukallaf agar ibadah yang dijalankan tidak sekadar menjadi ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan memenuhi kriteria legalistik yang ditetapkan oleh Syari. Artikel ini akan membedah secara saintifik-keagamaan mengenai rukun dan syarat puasa dengan merujuk pada teks-teks otoritatif dalam literatur Islam.
الْأَصْلُ فِي وُجُوبِ الصِّيَامِ قَوْلُهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. وَالصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ الْإِمْسَاكُ عَنِ الشَّيْءِ وَالتَّرْكُ لَهُ، وَفِي الشَّرْعِ عِبَارَةٌ عَنْ إِمْسَاكٍ مَخْصُوصٍ، وَهُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Dasar kewajiban puasa berlandaskan pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan bahwa puasa telah diwajibkan atas umat-umat terdahulu dengan tujuan akhir mencapai derajat takwa. Secara etimologis (lughatan), shiyam berarti al-imsak atau menahan diri dari apa pun, baik itu bicara maupun perbuatan. Namun, secara terminologi syariat (syar'an), puasa adalah bentuk penahanan diri yang spesifik, yakni menahan diri dari pembatal-pembatal puasa yang meliputi makan, minum, dan hubungan seksual, terhitung sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari. Definisi ini menjadi konsensus di antara empat madzhab, namun mereka mulai berbeda pendapat ketika memasuki rincian teknis mengenai rukun-rukun yang membangun hakikat puasa tersebut.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. وَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي اشْتِرَاطِ التَّبْيِيتِ فِي نِيَّةِ الصَّوْمِ؛ فَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى وُجُوبِ تَبْيِيتِ النِّيَّةِ لَيْلًا فِي صَوْمِ الْفَرْضِ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. بَيْنَمَا أَجَازَ الْحَنَفِيَّةُ النِّيَّةَ فِي رَمَضَانَ إِلَى مَا قَبْلَ الضَّحْوَةِ الْكُبْرَى.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Niat merupakan rukun pertama dan paling fundamental dalam ibadah puasa menurut mayoritas ulama. Hadits dari Umar bin Khattab menegaskan bahwa sahnya amal bergantung pada niat. Dalam konteks puasa wajib (Ramadhan), terjadi dialektika hukum mengenai waktu pelaksanaan niat (tabyit). Madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hambali mewajibkan niat dilakukan pada malam hari sebelum fajar menyingsing, berdasarkan hadits riwayat Hafsah bahwa tidak ada puasa bagi mereka yang tidak berniat di malam hari. Sebaliknya, Madzhab Hanafi memberikan rukhshah atau keringanan bahwa niat puasa Ramadhan tetap sah meskipun dilakukan di pagi hari sebelum waktu Dzahwah Al-Kubra (tengah hari), dengan alasan bahwa waktu Ramadhan itu sendiri sudah menjadi penentu jenis ibadah yang dilakukan.
وَالرُّكْنُ الثَّانِي مِنَ الصَّوْمِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ. وَيَشْمَلُ هَذَا الْإِمْسَاكُ عَنْ كُلِّ مَا يَدْخُلُ الْجَوْفَ عَمْدًا، وَعَنِ الِاسْتِقَاءَةِ، وَعَنِ الْجِمَاعِ، وَعَنْ خُرُوجِ الْمَنِيِّ بِاسْتِمْنَاءٍ أَوْ مُبَاشَرَةٍ، فَهَذِهِ هِيَ حَقِيقَةُ الصَّوْمِ الَّتِي لَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِهَا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

