Kajian mengenai ketuhanan (teologi/ilmu kalam) merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman. Sifat-sifat wajib bagi Allah Swt yang berjumlah dua puluh, sebagaimana dirumuskan oleh para imam mazhab Asy-Sya'irah dan Al-Maturidiyyah, bukanlah sebuah pembatasan melainkan sebuah formulasi sistematis untuk mempermudah umat Islam dalam memahami keagungan Khalik serta menjaga akidah dari syubhat kaum ateis (dahriyyah) maupun kaum antropomorfis (mujassimah). Para ulama membagi sifat-sifat ini ke dalam empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Metodologi yang digunakan menggabungkan antara dalil naqli (teks wahyu) yang otoritatif dan dalil aqli (rasionalitas murni) yang logis, sehingga menghasilkan keyakinan yang kokoh dan tidak tergoyahkan.

Untuk memahami keberadaan Allah Swt sebagai fondasi awal keimanan, para ulama kalam mengemukakan sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan maknawi. Sifat tersebut adalah Wujud (Ada). Keberadaan alam semesta yang bersifat baru (huduth) secara rasional menuntut adanya Pencipta yang bersifat terdahulu (Qidam) dan tidak bermula. Logika penciptaan ini ditegaskan secara eksplisit dalam alur argumentasi Al-Quran untuk meruntuhkan keraguan akal manusia mengenai eksistensi Sang Pencipta.

Dalam Artikel

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Terjemahan: Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 102)

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Dalam ayat ini, Allah Swt menegaskan identitas ketuhanan-Nya melalui sifat Wujud dan Al-Khaliqiyyah (Menciptakan). Kata "Dzalikum" (Itulah) merupakan isyarat penegasan yang mengarahkan akal manusia untuk merenungkan bukti-bukti empiris di alam semesta. Secara epistemologis, keberadaan alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi dengan sendirinya (kebetulan) atau diciptakan oleh ketiadaan. Sifat Wujud bagi Allah adalah wujud yang hakiki (Wajib al-Wujud), berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mungkin (Jaiz al-Wujud). Ayat ini juga merangkai konsep ketauhidan zat dengan kewajiban ibadah, membuktikan bahwa pengakuan terhadap sifat wajib Allah secara teologis harus berimplikasi pada ketundukan vertikal secara praktis.

Setelah menetapkan eksistensi (Wujud) Allah Swt, akal manusia dituntun untuk menyucikan zat-Nya dari segala keserupaan dengan makhluk. Kategori sifat ini disebut Salbiyyah, yang berfungsi menolak segala sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat Salbiyyah yang paling fundamental dalam membedakan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya adalah Mukhalafatu lil-hawadithi (Berbeda dengan makhluk yang baru). Allah Swt tidak dibatasi oleh ruang, waktu, arah, maupun dimensi fisik, karena seluruh batasan tersebut adalah karakteristik makhluk yang diciptakan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Ash-Shura: 11)