Filsafat ketuhanan dalam Islam menempati posisi paling agung karena ia merupakan fondasi dari seluruh bangunan syariat dan akhlak. Dalam tradisi intelektual Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya madzhab teologi Asy'ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap Allah Swt (ma'rifatullah) dirumuskan secara sistematis melalui metodologi penentuan Sifat Wajib Dua Puluh. Formulasi ini bukan sebuah bid'ah teologis, melainkan sebuah ikhtiar metodologis (manhaj) untuk memudahkan umat Islam memahami esensi ketuhanan di tengah gempuran pemikiran filsafat Helenistik dan aliran-aliran teologi menyimpang pada masa klasik. Para ulama mutakallimin membagi sifat-sifat ini ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pembagian ini didasarkan pada penalaran logis yang ketat (al-dalil al-aqli) yang diselaraskan dengan teks-teks otoritatif wahyu (al-dalil al-naqli), guna melahirkan keyakinan yang kokoh dan terhindar dari bahaya penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih) maupun penafian sifat-sifat Tuhan (ta'til).

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Rasul-rasul mereka berkata: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai batas waktu yang ditentukan. (Surah Ibrahim: 10)

Dalam kajian epistemologi tauhid, pembahasan pertama dan utama adalah menetapkan sifat Nafsiyah, yaitu Wujud (Ada). Sifat Nafsiyah adalah sifat yang merujuk pada zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan luar. Ayat di atas menegaskan bahwa eksistensi Allah Swt adalah sebuah keniscayaan yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan sedikit pun. Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pertanyaan retoris dalam ayat ini berfungsi sebagai pengakuan (taqrir) bahwa akal sehat manusia secara fitrah pasti mengakui adanya Sang Pencipta. Secara dalil aqli, keberadaan alam semesta yang bersifat baharu (huduth) dan penuh dengan keteraturan ini mustahil terjadi dengan sendirinya. Setiap yang baharu pasti membutuhkan pencipta (muhdith) yang eksistensinya bersifat wajib (Wajib al-Wujud). Sifat Wujud ini menjadi fondasi bagi seluruh sifat berikutnya, karena mustahil membicarakan sifat-sifat kesempurnaan tanpa menetapkan keberadaan Zat yang disifati terlebih dahulu.

[TEKS ARAB BLOK 2]

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2: