Dalam khazanah intelektual Islam, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menempati posisi yang sangat sentral. Para ulama menyebutnya sebagai Ummus Sunnah atau Induk dari segala Sunnah, sebagaimana Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Quran. Hadits ini memberikan kerangka epistemologis yang utuh mengenai apa itu agama. Ia bukan sekadar daftar kewajiban, melainkan sebuah hierarki spiritual yang membimbing manusia dari tataran formalitas lahiriah menuju kedalaman hakikat batiniah. Melalui dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kita diajak untuk membedah anatomi keberagamaan yang mencakup dimensi fisik (Islam), dimensi kognitif-intelektual (Iman), dan dimensi intuitif-spiritual (Ihsan).
BAGIAN PERTAMA: MANIFESTASI FORMALITAS DAN KEPATUHAN LAHIRIAH
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ صَدَقْتَ
Terjemahan dan Syarah Mendalam:
Suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah, muncul seorang pria dengan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam. Tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada satu pun dari kami yang mengenalnya. Ia duduk di hadapan Nabi, menyandarkan lututnya pada lutut Nabi, dan meletakkan telapak tangannya di atas paha Nabi seraya bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah engkau bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu. Pria itu menjawab: Engkau benar.
Analisis Fiqih dan Teologis:
Secara terminologi, Islam dalam konteks ini merujuk pada amalan-amalan lahiriah (al-a'mal az-zhahirah). Penggunaan kata al-Islam di sini menekankan pada aspek ketundukan total (al-inqiyad). Lima pilar yang disebutkan merupakan representasi dari seluruh syariat. Syahadat mewakili fondasi legalitas, shalat sebagai tiang hubungan vertikal, zakat sebagai jaring pengaman sosial, puasa sebagai sarana pengendalian diri, dan haji sebagai simbol persatuan global. Tanpa implementasi kelima pilar ini, struktur keagamaan seseorang dianggap rapuh secara yuridis formal di hadapan hukum Tuhan.
BAGIAN KEDUA: KONSTRUKSI KEYAKINAN DAN DIMENSI METAFISIKA
قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

