Disiplin ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa landasan akidah yang kokoh, seluruh amal ibadah kehilangan pijakan ontologisnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah Swt melalui klasifikasi sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Pendekatan ini bukanlah sebuah bid'ah dalam agama, melainkan sebuah metodologi (manhaj) untuk mempermudah umat dalam memahami hakikat ketuhanan di tengah gempuran pemikiran filsafat yang menyesatkan dan paham antropomorfisme (tasybih). Mengenal sifat wajib bagi Allah berarti mengukuhkan keyakinan bahwa Sang Pencipta memiliki kesempurnaan mutlak yang tidak terjangkau oleh nalar makhluk secara keseluruhan, namun dapat diidentifikasi melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terbentang di alam semesta.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى وَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ، فَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يُمْكِنُ تَعَقُّلُ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ بِدُونِهَا، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. فَالْعَالَمُ بِأَسْرِهِ حَادِثٌ، وَكُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ، وَهُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي لَا يَفْتَقِرُ إِلَى غَيْرِهِ فِي وُجُودِهِ بَلْ كُلُّ مَا سِوَاهُ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Dzat yang Wajib al-Wujud (pasti adanya) karena Dzat-Nya sendiri. Sifat Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjukkan keberadaan Dzat itu sendiri tanpa tambahan makna lain. Dalil naqli mengenai hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 190 yang menjelaskan bahwa penciptaan langit, bumi, serta pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal. Secara argumentasi rasional (dalil aqli), alam semesta ini bersifat baru (hadits) dan berubah-ubah. Setiap sesuatu yang baru pasti membutuhkan pencipta (muhdits) yang keberadaannya bersifat niscaya dan tidak didahului oleh ketiadaan. Allah adalah prima causa yang tidak membutuhkan entitas lain untuk ada, sementara seluruh alam semesta bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى مَوْصُوفٌ بِالْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ، وَهُمَا مِنْ صِفَاتِ السَّلْبِيَّةِ الَّتِي تَنْفِي عَنِ اللهِ مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ هُوَ عَدَمُ افْتِتَاحِ الْوُجُودِ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ هُوَ عَدَمُ اخْتِتَامِ الْوُجُودِ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ مَوْجُودٌ قَبْلَ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَبَعْدَ فَنَاءِ الْأَكْوَانِ، لَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ وَلَا يُغَيِّرُهُ أَوَانٌ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Selanjutnya, Allah Ta'ala disifati dengan Qidam (Terdahulu tanpa awal) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Keduanya termasuk dalam kategori Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 3: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin. Makna Qidam bagi Allah adalah tidak adanya permulaan bagi keberadaan-Nya, berbeda dengan makhluk yang memiliki titik awal. Sedangkan Baqa bermakna tidak adanya titik akhir bagi keberadaan-Nya. Allah ada sebelum adanya ruang dan waktu, dan tetap ada setelah seluruh alam semesta hancur (fana). Allah tidak terikat oleh dimensi waktu dan tidak mengalami perubahan fase sebagaimana makhluk yang menua atau rusak.
وَمِنْ أَهَمِّ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لَهُ تَعَالَى مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، فَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ. قَالَ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَاللهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَتَحَيَّزُ فِي جِهَةٍ، بَلْ هُوَ الْمُنَزَّهُ عَنِ التَّشْبِيهِ وَالتَّجْسِيمِ، فَكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ كَمَا قَالَهُ الْإِمَامُ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

