Perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap keagamaan secara drastis. Bagi Generasi Z, ruang kelas keagamaan tidak lagi terbatas pada dinding-dinding pesantren atau serambi masjid, melainkan telah berpindah ke layar gawai melalui video pendek di TikTok, Instagram, maupun YouTube. Demokratisasi informasi ini tentu merupakan sebuah berkah yang patut disyukuri karena membuat akses terhadap nilai-nilai Islam menjadi sangat mudah. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan tantangan besar yang mengancam kedalaman pemahaman agama dan keluhuran akhlak generasi muda kita. Kecepatan informasi sering kali mengorbankan ketelitian, dan estetika visual kerap kali mengalahkan substansi keilmuan.
Salah satu tantangan paling krusial dalam dakwah digital hari ini adalah terkikisnya konsep sanad atau silsilah keilmuan yang jelas. Di jagat maya, siapa saja yang memiliki kemampuan retorika yang menarik dan penyuntingan video yang estetis dapat dengan mudah ditokohkan sebagai rujukan agama, terlepas dari latar belakang pendidikan formal keislamannya. Fenomena ustadz dadakan ini berpotensi mendangkalkan pemahaman umat terhadap syariat yang kompleks. Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya belajar langsung kepada para ahli yang memiliki otoritas keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan hal ini dalam Al-Quran:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Merawat Ukhuwah di Tengah Badai Perbedaan: Menakar Kedewasaan Berpikir dengan Timbangan Akhlak
Ayat ini menegaskan bahwa di tengah rimba informasi digital yang simpang siur, Generasi Z harus didorong untuk bersikap kritis dalam menyaring guru spiritual mereka, bukan sekadar terpukau oleh jumlah pengikut atau kelincahan berbicara di depan kamera.
Selain masalah otoritas keilmuan, tantangan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah hilangnya adab dan akhlakul karimah dalam berinteraksi di ruang digital. Kolom komentar media sosial sering kali berubah menjadi medan perang pemikiran yang penuh dengan caci maki, saling menyesatkan, bahkan saling mengafirkan hanya karena perbedaan masalah furu'iyyah atau cabang agama. Kehangatan ukhuwah Islamiyah seolah menguap begitu saja ketika jemari mulai mengetik di papan tombol gawai. Hal ini tentu sangat kontradiktif dengan esensi utama dari diutusnya Rasulullah ke muka bumi, sebagaimana sabda beliau:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Menenun Kembali Keadaban Bangsa: Reposisi Strategis Muslimah dalam Arsitektur Peradaban Modern
Dakwah digital yang mengabaikan nilai akhlak, betapapun fasihnya dalil yang diucapkan, sesungguhnya telah kehilangan ruh utamanya dan justru berpotensi menjauhkan manusia dari keindahan Islam yang ramah.
Tantangan ini semakin diperumit oleh sistem kerja algoritma media sosial yang cenderung menciptakan ruang gema atau echo chamber. Algoritma dirancang untuk menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga Gen Z sering kali hanya terpapar pada satu sudut pandang keagamaan yang ekstrem dan enggan membuka diri terhadap perbedaan pendapat yang muktabar. Lebih jauh lagi, tuntutan untuk mendapatkan suka, bagikan, dan komentar sering kali menjebak para kreator konten dakwah dalam penyakit riya dan sum'ah. Dakwah yang mulanya diniatkan lillahi ta'ala berisiko bergeser menjadi sekadar sarana pemburu validasi sosial dan popularitas sesaat di dunia maya.
Menghadapi realitas yang kompleks ini, metode dakwah digital harus dirumuskan ulang tanpa sedikit pun mereduksi kesucian syariat itu sendiri. Para dai dan kreator konten Muslim dituntut untuk mengemas pesan-pesan agama dengan hikmah, kebijaksanaan, dan pendekatan yang relevan dengan psikologi Generasi Z yang menyukai keterbukaan dan dialog interaktif. Al-Quran telah memberikan cetak biru yang sangat indah mengenai metodologi dakwah ini:

