Era digital bukan lagi pilihan, melainkan realitas yang melingkupi napas kehidupan Generasi Z. Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar kayu di sudut masjid, melainkan berpindah ke layar gawai yang serba cepat. Namun, pergeseran medium ini membawa tantangan eksistensial yang besar. Kita tidak hanya bicara soal bagaimana memindahkan materi pengajian ke dalam video pendek berdurasi enam puluh detik, melainkan bagaimana menjaga agar ruh dari pesan langit tersebut tidak terdistorsi oleh bisingnya algoritma media sosial yang cenderung mendewakan tren sesaat.

Salah satu tantangan paling nyata adalah fenomena komodifikasi agama yang terjebak dalam arus estetika visual. Generasi Z yang sangat visual seringkali terpapar pada konten dakwah yang hanya menyentuh permukaan, tanpa kedalaman literatur yang memadai. Risiko dari dakwah instan ini adalah lahirnya pemahaman agama yang fragmentaris, di mana hukum-hukum Tuhan dipahami sepotong-sepotong demi mengejar klik dan suka. Di sinilah letak urgensi bagi para pendakwah untuk tetap memegang prinsip kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran.

Dalam Artikel

Allah SWT telah memberikan panduan baku dalam berkomunikasi melalui firman-Nya dalam Surah An-Nahl ayat 125: ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ yang artinya serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Ayat ini menekankan bahwa hikmah atau kebijaksanaan harus melampaui sekadar kepiawaian mengedit video. Hikmah dalam konteks digital berarti kemampuan menempatkan pesan agama sesuai porsinya, tanpa mengurangi esensi meskipun dikemas dalam durasi yang terbatas.

Selanjutnya, kita menghadapi tantangan otoritas keagamaan. Di jagat maya, siapa pun bisa menjadi ustadz asalkan memiliki jumlah pengikut yang banyak dan kemampuan retorika yang memikat. Generasi Z seringkali kesulitan membedakan antara dai yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dengan figur publik yang hanya pandai merangkai kata-kata motivasi berbalut dalil. Tanpa bimbingan yang tepat, mereka berisiko terjebak dalam pemikiran ekstrem atau sebaliknya, pemikiran yang terlalu menggampangkan urusan agama demi mengikuti arus modernitas yang tidak selalu sejalan dengan syariat.

Selain masalah substansi, etika berkomunikasi atau akhlakul karimah di ruang digital menjadi persoalan yang krusial. Seringkali dakwah di media sosial justru menjadi ajang perdebatan yang saling menjatuhkan antar kelompok. Padahal, dakwah seharusnya merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan mengejek. Generasi Z membutuhkan teladan nyata tentang bagaimana mengekspresikan keyakinan dengan tetap menghormati martabat manusia lainnya, terutama di tengah budaya pembatalan atau cancel culture yang sangat masif di internet.

Prinsip kesantunan ini sejalan dengan perintah Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 83: وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا yang bermakna dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Dalam konteks digital, kata-kata yang baik ini mencakup komentar yang tidak menghujat, caption yang tidak memprovokasi, serta konten yang tidak mengandung unsur adu domba. Dakwah digital harus mampu menjadi penyejuk di tengah panasnya polarisasi opini yang seringkali memecah belah umat hanya karena perbedaan pandangan yang bersifat furu’iyah atau cabang.

Kita juga tidak boleh memandang Generasi Z hanya sebagai objek dakwah yang pasif. Mereka adalah subjek yang memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di dunia digital. Tantangannya adalah bagaimana membekali mereka dengan integritas spiritual yang kokoh agar tidak hanyut dalam arus hedonisme digital. Dakwah bagi mereka haruslah bersifat dialogis, memberikan ruang bagi pertanyaan-pertanyaan kritis yang seringkali muncul dari kegelisahan mereka terhadap isu-isu sosial kontemporer seperti keadilan lingkungan, kesehatan mental, dan kesenjangan ekonomi.

Sebagai penutup, dakwah digital bagi Generasi Z memerlukan sinergi antara kedalaman ilmu ulama klasik dengan kecakapan teknologi anak muda. Kita tidak bisa menolak kemajuan zaman, namun kita juga tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip dasar akidah dan akhlak demi popularitas. Hanya dengan menjaga keseimbangan antara substansi dan kemasan, serta tetap berpegang teguh pada etika islami, dakwah digital dapat benar-benar menyentuh hati dan membawa perubahan nyata bagi peradaban manusia di masa depan.