Di era disrupsi informasi saat ini, kita sering kali menyaksikan betapa mudahnya perbedaan pendapat berubah menjadi perselisihan yang tajam. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dialektika yang mencerahkan, justru kerap berubah menjadi medan pertempuran ego yang melelahkan. Fenomena ini menunjukkan adanya degradasi nilai dalam cara kita berkomunikasi di ruang publik. Sebagai umat yang dididik dengan nilai-nilai luhur, kita perlu bertanya kembali pada diri sendiri: apakah kebenaran yang kita perjuangkan sudah disampaikan dengan cara yang benar dan beradab?
Islam tidak pernah melarang adanya perbedaan pandangan, karena keragaman berpikir adalah sunnatullah yang melekat pada penciptaan manusia. Namun, Islam memberikan batasan yang tegas melalui metode komunikasi yang santun. Allah SWT memberikan pedoman yang jelas dalam Al-Qur'an mengenai bagaimana seharusnya sebuah dialog dibangun:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Ayat ini menegaskan bahwa substansi kebenaran harus dibalut dengan kemasan yang penuh kebijaksanaan, bukan dengan caci maki atau upaya merendahkan martabat orang lain yang berbeda pandangan dengan kita.
Realitas sosial kita saat ini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan, di mana seseorang sering kali merasa memiliki otoritas tunggal atas kebenaran. Sikap merasa paling benar yang berlebihan sering kali menutup pintu dialog dan mematikan nalar kritis yang sehat. Akhlakul karimah menuntut kita untuk memiliki kelapangan dada dalam mendengarkan argumen orang lain. Tanpa landasan adab, ilmu pengetahuan yang luas sekalipun hanya akan menjadi alat untuk memecah belah, bukan untuk menyatukan atau mencari solusi atas persoalan umat yang kian kompleks.
Kita harus menyadari bahwa ikatan persaudaraan iman jauh lebih tinggi nilainya daripada sekadar kemenangan dalam sebuah perdebatan di ruang siber. Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah cabang tidak seharusnya merusak fondasi ukhuwah yang telah dibangun dengan susah payah. Allah SWT mengingatkan kita semua dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu. Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim bahwa setiap kali terjadi gesekan pendapat, orientasi utama kita adalah melakukan perbaikan hubungan, bukan justru memperlebar jurang permusuhan demi kepuasan pribadi.
Meneladani para ulama salaf, kita akan menemukan betapa indahnya mereka mengelola perbedaan pendapat. Imam Syafi'i pernah memberikan teladan intelektual yang luar biasa dengan mengatakan bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap rendah hati inilah yang mulai hilang dari ruang publik kita hari ini. Saat ini, banyak orang lebih memilih untuk memenangkan perdebatan daripada memenangkan hati saudaranya, seolah-olah menjatuhkan lawan bicara adalah sebuah prestasi.

