Pernah gak sih kamu lagi asyik scrolling media sosial di malam hari, terus tiba-tiba dada terasa sesak? Melihat pencapaian teman sebaya yang sudah beli rumah, lanjut S2 di luar negeri, atau sekadar liburan estetis ke luar kota, sering kali memicu rasa cemas yang berlebihan. Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO dan overthinking ini sudah jadi makanan sehari-hari bagi Gen Z dan Millennial. Rasanya seperti kita sedang berlari di treadmill yang tidak pernah berhenti, lelah tapi takut tertinggal.
Di tengah gempuran standar kesuksesan media sosial yang sering kali tidak realistis, kesehatan mental kita rentan sekali goyah. Kita butuh jeda, butuh healing yang tidak sekadar menghabiskan uang untuk kopi mahal atau liburan sesaat, melainkan penyembuhan yang merasuk hingga ke dalam jiwa.
Poin 1: Mengatasi Kecemasan Masa Depan dengan Berserah Diri
Overthinking sering kali bersumber dari ketakutan kita akan masa depan yang belum pasti. Kita sibuk menyusun skenario terburuk di kepala hingga lupa menikmati hari ini. Islam mengajarkan kita untuk melepaskan beban yang bukan kendali kita. Saat pikiran mulai berisik dan dada terasa sesak oleh kecemasan, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang sangat indah untuk meredakan badai di dalam kepala kita.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih.
Doa ini adalah self-healing terbaik. Dengan melafalkannya, kita sedang menyerahkan segala ketidakpastian masa depan kepada Dzat yang Maha Mengatur. Kita mengakui keterbatasan kita sebagai manusia dan membiarkan ketenangan mengalir masuk menggantikan rasa cemas.
Poin 2: Menemukan Ketenangan Sejati di Tengah Riuhnya Dunia
Media sosial sering kali membuat kita fokus pada apa yang tidak kita miliki, sehingga melahirkan rasa tidak puas yang terus-menerus. Kita mencari validasi dari jumlah likes dan komentar, padahal hati manusia tidak akan pernah kenyang dengan pujian duniawi. Untuk menyembuhkan jiwa yang lelah dari kompetisi dunia yang tanpa akhir ini, kita perlu kembali ke sumber ketenangan yang sesungguhnya.

