Di tengah derasnya arus informasi dan keterbukaan ruang publik digital hari ini, kita sering kali disuguhkan oleh pemandangan yang memprihatinkan. Perbedaan pandangan, baik dalam ranah politik, sosial, bahkan pemahaman keagamaan, tidak lagi disikapi sebagai ruang dialektika yang sehat. Sebaliknya, perbedaan kerap menjadi pemantik api permusuhan, caci maki, dan saling menjatuhkan martabat sesama. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai yang mengkhawatirkan, di mana kecerdasan intelektual tidak lagi dibersamai oleh kematangan spiritual dan keanggunan akhlak dalam berinteraksi.

Sebagai umat yang dianugerahi tuntunan wahyu, kita semestinya memahami bahwa keberagaman isi kepala adalah ketetapan sunnatullah yang tidak mungkin dihindari. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa perbedaan diciptakan agar manusia saling mengenal dan belajar, bukan untuk saling menafikan. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

Dalam Artikel

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa interaksi sosial di tengah perbedaan harus didasarkan pada semangat ta'aruf, yaitu upaya saling memahami secara mendalam, yang pada akhirnya melahirkan rasa saling menghormati dan memuliakan satu sama lain.

Namun, realitas hari ini justru menunjukkan kemunduran dalam adab berikhtilaf atau etika berbeda pendapat. Algoritma media sosial yang cenderung menciptakan ruang gema membuat kita hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar dan berkumpul dengan kelompok yang sepemikiran saja. Akibatnya, ketika dihadapkan pada opini yang berseberangan, respons pertama kita sering kali bukan mencoba memahami secara objektif, melainkan menyerang pribadi pembawa pesan. Debat kusir tanpa argumen ilmiah yang kokoh merajalela, mengikis empati, dan merobek tenun ukhuwah yang telah lama kita rawat bersama.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan teladan agung tentang bagaimana menjaga lisan dan sikap di tengah perbedaan. Beliau mengajarkan bahwa keimanan seseorang tercermin secara langsung dari bagaimana ia mengelola ucapannya dan memperlakukan orang lain. Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Tuntunan moral ini sangat relevan untuk menghentikan laju permusuhan di ruang publik. Jika kita tidak mampu memberikan tanggapan yang konstruktif, ilmiah, dan membawa maslahat, maka menahan diri atau diam adalah pilihan yang jauh lebih mulia serta menyelamatkan kita dari dosa lisan.

Salah satu akar masalah dari hilangnya akhlak dalam berbeda pendapat adalah penyakit ta'assub atau fanatisme buta. Fanatisme ini membuat seseorang merasa memonopoli kebenaran tunggal, sementara orang lain yang berbeda pandangan dianggap pasti berada dalam kesesatan. Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, para ulama mazhab terdahulu telah memberikan contoh luar biasa tentang kerendahan hati. Imam Syafi'i, misalnya, pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap inklusif dan penuh tawadhu inilah yang hari ini langka dalam diskursus sosial kita.