Diskursus mengenai ketuhanan merupakan fundamen paling mendasar dalam bangunan keislaman. Mengenal Allah Swt atau Ma’rifatullah bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual yang didasarkan pada argumentasi yang kokoh. Dalam tradisi teologi Islam, khususnya madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sistematisasi sifat-sifat Allah guna menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Pemahaman terhadap sifat-sifat wajib ini menjadi keniscayaan bagi setiap mukallaf agar ibadah yang dijalankan berdiri di atas landasan keyakinan yang benar, bukan sekadar taklid buta. Berikut adalah bedah mendalam mengenai sifat-sifat tersebut yang terbagi dalam klasifikasi Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.
فَكُلُّ مَنْ كُلِّفَ شَرْعًا وَجَبَا عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ مَا قَدْ وَجَبَا لِلَّهِ وَالْجَائِزَ وَالْمُمْتَنِعَا وَمِثْلُ ذَا لِرُسْلِهِ فَاسْتَمِعَا فَالْوَاجِبُ الْعَقْلِيُّ مَا لَمْ يَقْبَلِ النَّفْيَ بِذَاتِهِ لَدَى كُلِّ جَلِي وَالْمُسْتَحِيْلُ كُلُّ مَا لَمْ يَقْبَلِ فِي ذَاتِهِ الثُّبُوْتَ ضِدُّ الْأَوَّلِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Setiap individu yang telah mencapai usia taklif (mukallaf) secara syariat memiliki kewajiban fundamental untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah, apa yang mustahil bagi-Nya, dan apa yang jaiz (mungkin) bagi-Nya. Hal ini juga berlaku dalam konteks pengenalan terhadap para Rasul. Secara epistemologi teologis, wajib aqli didefinisikan sebagai sesuatu yang keberadaannya tidak dapat diterima oleh akal jika ditiadakan. Sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud. Wujud Allah adalah Wujud Hakiki yang tidak didahului oleh tiada dan tidak diakhiri oleh fana. Berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mumkinul wujud (mungkin ada), wujud Allah adalah Wajibul Wujud (niscaya ada). Dalil aqli menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta ini mustahil terjadi tanpa adanya pencipta yang eksistensinya bersifat mutlak dan mandiri.
وَلِلّٰهِ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ بِالْإِطْلَاقِ وَقِيَامُهُ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ الْعَلِيَّةِ فَالْقِدَمُ هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُوْدِ وَالْبَقَاءُ هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُوْدِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Blok ini menjelaskan Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat Qidam (Terdahulu) bermakna bahwa Allah tidak memiliki titik awal bagi keberadaan-Nya. Baqa (Kekal) bermakna Allah tidak akan pernah mengalami kepunahan. Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah berbeda secara totalitas dari segala sesuatu yang baru (makhluk), baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Tidak ada ruang bagi antropomorfisme dalam akidah Islam. Qiyamuhu Binafsihi menunjukkan kemandirian mutlak Allah yang tidak membutuhkan ruang, waktu, maupun pencipta. Wahdaniyyah (Esa) menafikan adanya sekutu bagi Allah, baik dalam susunan dzat-Nya (kam muttashil) maupun dalam keberadaan tuhan lain (kam munfashil). Ini adalah puncak dari pemurnian tauhid.
ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّبْعَةُ الْمَعَانِي هِيَ قُدْرَةٌ إِرَادَةٌ عِلْمٌ حَيَاةٌ سَمْعٌ بَصَرٌ كَلَامٌ فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تُؤَثِّرُ فِي الْمَقْدُوْرَاتِ عِنْدَ تَعَلُّقِهَا بِهَا وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

