Pernah nggak sih kamu lagi asik scrolling TikTok atau Instagram jam dua pagi, terus tiba-tiba merasa kecil hati? Lihat teman SMA sudah punya startup, teman kuliah baru saja lamaran, atau influencer favorit lagi liburan ke Swiss. Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out ini sering banget bikin kita kena quarter-life crisis. Kita jadi merasa tertinggal, nggak berharga, dan akhirnya kesehatan mental kita jadi taruhannya. Di era pop culture yang serba pamer pencapaian ini, menjaga kewarasan itu tantangan besar buat Gen Z dan Millennial Muslim.

Poin pertama yang harus kita sadari adalah bahwa setiap orang punya timeline masing-masing yang sudah diatur dengan sangat rapi oleh Sang Pencipta. Kita nggak perlu merasa terbebani dengan standar sukses orang lain yang seringkali cuma sekadar highlight reel di media sosial. Ingatlah bahwa Allah tahu batas kemampuan kita dan tidak akan membiarkan kita hancur karena beban hidup. Dalam Al-Qur'an disebutkan:

Dalam Artikel

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Jadi, kalau sekarang kamu merasa lagi di fase sulit, itu tandanya kamu mampu melewatinya. Jangan biarkan standar sukses versi netizen bikin kamu lupa kalau kamu itu kuat dan berharga di mata Tuhan.

Poin kedua, obat paling mujarab buat ngadepin rasa iri atau rendah diri adalah dengan praktik self-healing melalui rasa syukur atau Qanaah. Alih-alih fokus pada apa yang belum kita miliki, coba deh list hal-hal kecil yang bikin kita bahagia hari ini. Bisa jadi itu secangkir kopi yang enak, kesehatan, atau sekadar punya waktu buat bernapas lega. Dengan bersyukur, kita justru membuka pintu rezeki yang lebih luas lagi. Allah berjanji dalam firman-Nya:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.

Tips praktis buat kamu: Coba deh lakukan digital detox minimal satu jam sebelum tidur. Gunakan waktu itu buat ngobrol sama diri sendiri dan Allah. Curhatin semua kegelisahan kamu karena Dia adalah pendengar terbaik. Kalau hati sudah tenang, kamu bakal sadar kalau hidup ini bukan kompetisi lari melawan orang lain, tapi perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.