Shalat merupakan tiang agama sekaligus sarana komunikasi vertikal yang paling sakral antara seorang hamba dengan Khaliqnya. Namun, shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban tanpa adanya kehadiran hati (hudhurul qalb) akan kehilangan esensinya sebagai mi’rajul mu’minin. Khusyu bukan sekadar ketenangan fisik, melainkan sebuah kondisi psikologis-spiritual di mana seorang hamba merasa rendah, tunduk, dan penuh pengagungan di hadapan Allah Azza wa Jalla. Para ulama salaf memandang khusyu sebagai ruh dari ibadah shalat, yang tanpanya shalat ibarat jasad yang mati. Untuk memahami bagaimana mencapai derajat ini, kita perlu membedah dalil-dalil otoritatif yang menjadi fondasi utama dalam diskursus mengenai kekhusyuan.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS. Al-Mu'minun: 1-6). Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa al-khusyu fi al-shalah tercapai apabila seseorang mengosongkan hatinya dari segala kesibukan duniawi dan memfokuskan seluruh indranya hanya untuk Allah. Kata aflaha mengisyaratkan keberuntungan yang abadi dan komprehensif. Khusyu di sini mencakup ketenangan anggota badan (sukun al-ajrah) dan rasa takut yang mendalam di dalam hati (khauf al-qalb). Tanpa khusyu, seseorang mungkin sah secara fiqih, namun ia kehilangan pahala kesempurnaan di sisi Allah.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. Al-Baqarah: 45-47). Ayat ini memberikan kunci metodologis bahwa khusyu berakar pada keyakinan eskatologis (akhirat). Frasa annahum mulaqu rabbihim (bahwa mereka akan menemui Tuhannya) menunjukkan bahwa kesadaran akan pertemuan dengan Allah adalah pemicu utama hadirnya kekhusyuan. Shalat akan terasa berat dan menjadi beban mekanis jika hati kosong dari rasa takut dan harap kepada Allah. Khusyu menjadikan ibadah yang secara fisik melelahkan menjadi sebuah kenikmatan ruhani yang tak tertandingi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ثُمَّ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk ke masjid, lalu masuklah seorang laki-laki kemudian ia shalat. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat. Maka orang itu kembali shalat seperti shalat yang telah dilakukannya tadi, kemudian ia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan memberi salam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Dan atasmu keselamatan, kemudian beliau bersabda: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat. Beliau memerintahkan hal itu sampai tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini dikenal sebagai hadits al-musii'u shalatahu (orang yang buruk shalatnya). Secara syarah hadits, ketidakabsahan shalat orang tersebut disebabkan oleh hilangnya tumaninah (ketenangan di setiap rukun). Tumaninah adalah prasyarat fisik bagi khusyu. Tanpa tumaninah, hati tidak akan sempat merenungi bacaan dan gerakan shalat, sehingga Nabi menyatakan seolah-olah orang tersebut belum melakukan shalat sama sekali.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيثِ جِبْرِيلَ الطَّوِيلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 4: Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dalam hadits Jibril yang panjang, ia berkata: Jibril bertanya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Nabi menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Jibril berkata: Engkau benar. Jibril bertanya lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat. Nabi menjawab: Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. Jibril berkata: Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya. Nabi menjawab: Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala kambing, berlomba-lomba dalam membangun bangunan megah. (HR. Muslim). Ihsan adalah derajat tertinggi dalam agama yang menjadi landasan filosofis khusyu. Maqam Mushahadah (seolah melihat Allah) dan Maqam Muraqabah (merasa diawasi Allah) adalah dua pilar utama. Ketika seseorang merasa sedang berdiri di hadapan Sang Pencipta alam semesta, maka secara otomatis seluruh fakultas jiwanya akan tertuju pada satu titik pengabdian, meminimalisir distraksi pikiran, dan melahirkan ketundukan yang totalitas.