Puasa merupakan rukun Islam yang memiliki dimensi legal-formal yang sangat ketat dalam diskursus fiqih klasik. Secara epistemologis, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah bentuk peribadatan totalitas yang memerlukan pemenuhan kriteria-kriteria yuridis agar dianggap sah secara syariat. Para ulama dari empat madzhab besar, yakni Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, Asy-Syafi iyyah, dan Al-Hanabilah, telah merumuskan kodifikasi mengenai apa yang menjadi fundamen (rukun) dan prasyarat (syarat) dalam ibadah ini. Ketelitian dalam memahami perbedaan tipis di antara pandangan para mujtahid ini menjadi krusial bagi setiap Muslim guna memastikan ibadahnya berada di atas fondasi ilmu yang kokoh.

TEKS ARAB BLOK 1

Dalam Artikel

الرُّكْنُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْجَانِبُ الْأَقْوَى مِنَ الشَّيْءِ، وَفِي الِاصْطِلَاحِ مَا لَا وُجُودَ لِذَلِكَ الشَّيْءِ إِلَّا بِهِ وَكَانَ جُزْءًا مِنْ مَاهِيَّتِهِ. وَأَمَّا الصَّوْمُ فَرُكْنُهُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ شَيْئَانِ: النِّيَّةُ وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ. قَالَ الْإِمَامُ النَّوَوِيُّ فِي مِنْهَاجِ الطَّالِبِينَ: كِتَابُ الصِّيَامِ، هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ بِنِيَّةٍ مَخْصُوصَةٍ جَمِيعَ النَّهَارِ. وَاشْتَرَطَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ النِّيَّةَ رُكْنًا، بَيْنَمَا اعْتَبَرَهَا الْحَنَفِيَّةُ شَرْطًا لَا رُكْنًا، لِأَنَّ الرُّكْنَ عِنْدَهُمْ هُوَ الْإِمْسَاكُ فَقَطْ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Rukun secara etimologi berarti sisi terkuat dari sesuatu, sedangkan secara terminologi adalah sesuatu yang keberadaan sesuatu tersebut bergantung padanya dan ia merupakan bagian dari hakikat zatnya. Adapun puasa, menurut mayoritas ulama (Jumhur), rukunnya terdiri dari dua hal: Niat dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan (Imsak). Imam An-Nawawi dalam kitab Minhaj ath-Thalibin menyatakan bahwa puasa adalah menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dengan niat khusus sepanjang siang hari. Terdapat distingsi teoretis di sini: Madzhab Syafi i, Maliki, dan Hambali menempatkan niat sebagai rukun (elemen internal), sementara Madzhab Hanafi mengkategorikan niat sebagai syarat (elemen eksternal) karena menurut mereka rukun puasa hanyalah Imsak itu sendiri. Perbedaan ini berimplikasi pada cara pandang terhadap struktur ibadah, namun secara aplikatif semua madzhab sepakat bahwa puasa tanpa niat adalah tidak sah.

TEKS ARAB BLOK 2

وَمِنْ شُرُوطِ وُجُوبِ الصِّيَامِ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ. فَلَا يَجِبُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وُجُوبَ مُطَالَبَةٍ فِي الدُّنْيَا، وَلَا عَلَى صَبِيٍّ وَمَجْنُونٍ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ. وَزَادَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ شَرْطَ الْإِقَامَةِ وَالْخُلُوِّ مِنَ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ لِوُجُوبِ الْأَدَاءِ، فَالْمُسَافِرُ وَالْحَائِضُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِمَا أَدَاءُ الصَّوْمِ فِي وَقْتِهِ بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Di antara syarat wajib puasa adalah Islam, Baligh, Berakal, dan Kemampuan untuk berpuasa. Puasa tidak diwajibkan bagi kafir asli dalam konteks tuntutan hukum di dunia, tidak pula bagi anak kecil dan orang gila berdasarkan sabda Nabi SAW: Diangkat pena (tanggung jawab hukum) dari tiga golongan: orang tidur hingga bangun, anak kecil hingga bermimpi basah (baligh), dan orang gila hingga berakal. Madzhab Maliki dan Syafi i menambahkan syarat residensi (tidak sedang safar) dan suci dari haid serta nifas sebagai syarat wajib pelaksanaan (wujubul ada). Maka, musafir dan wanita yang sedang haid tidak wajib melaksanakan puasa pada waktunya, namun mereka tetap terkena beban kewajiban mengganti (qadha) di hari lain karena mereka termasuk ahliyyatul wujub (orang yang layak menerima beban kewajiban) secara umum.