Doa dalam konstelasi teologi Islam bukan sekadar permohonan hamba kepada Penciptanya, melainkan merupakan inti dari ibadah itu sendiri atau yang sering disebut sebagai mukhkhul ibadah. Secara ontologis, doa mencerminkan pengakuan mutlak seorang hamba atas kefakiran dirinya dan kemahakayaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, dalam dimensi praktisnya, efektivitas doa sering kali dikaitkan dengan variabel waktu yang telah ditetapkan oleh syariat sebagai ruang-ruang istimewa di mana tabir antara hamba dan Khalik menjadi sangat tipis. Para ulama mufassir dan muhaddits telah mengklasifikasikan waktu-waktu ini bukan sebagai pembatasan kekuasaan Allah, melainkan sebagai bentuk pemuliaan terhadap momentum-momentum tertentu yang memiliki nilai spiritualitas tinggi. Analisis terhadap waktu mustajab ini memerlukan pemahaman mendalam terhadap teks-teks hadits agar seorang mukmin dapat mengoptimalkan setiap hembusan nafasnya dalam ketaatan yang terarah.

Momentum pertama yang memiliki kedudukan paling agung dalam hierarki waktu mustajab adalah sepertiga malam terakhir. Pada fase kronologis ini, terjadi sebuah fenomena spiritual yang disebut dengan Nuzul Ilahi, di mana Allah Yang Maha Kuasa memberikan perhatian khusus kepada penduduk bumi. Secara fiqih dan akidah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah memahami momentum ini sebagai waktu di mana rahmat dan pengabulan doa dibuka selebar-lebarnya bagi mereka yang bersedia bangun dan bersujud di saat manusia lainnya terlelap dalam tidur.

Dalam Artikel

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tuhan kita Tabaraka wa Ta'ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya. (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). Dalam tinjauan syarah hadits, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa penggunaan diksi nuzul (turun) dalam teks ini adalah bentuk perwujudan kasih sayang dan kedekatan Allah kepada hamba-Nya yang beribadah di waktu tersebut. Ini adalah waktu di mana jiwa berada dalam kondisi paling murni, jauh dari riya, dan sangat fokus dalam permohonan.

Selanjutnya, ruang waktu antara adzan dan iqamah merupakan celah waktu yang sering terabaikan oleh banyak kaum muslimin, padahal secara legalitas syar'i, waktu ini memiliki jaminan ketidaktertolakan doa. Secara psikologis dan sosiologis, waktu ini adalah masa penantian ibadah shalat, di mana seorang hamba secara resmi telah memutus hubungan dengan urusan duniawi dan bersiap menghadap Rabb-nya. Keteguhan hati dalam menunggu shalat inilah yang mengundang turunnya restu langit atas setiap permintaan yang dipanjatkan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Doa itu tidak akan ditolak di antara adzan dan iqamah. (Hadits Riwayat At-Tirmidhi dan Abu Dawud). Syarah hadits ini menekankan bahwa status seseorang yang menunggu iqamah adalah seperti orang yang sedang berada dalam shalat (fi shalatin). Oleh karena itu, keadaan suci dan fokus yang dimiliki oleh hamba pada saat itu menjadi katalisator utama bagi terkabulnya doa. Para ulama menganjurkan agar waktu yang singkat ini tidak diisi dengan percakapan sia-sia, melainkan dengan untaian doa yang komprehensif untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Hari Jumat, sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari, menyimpan satu rahasia waktu yang sangat singkat namun memiliki kekuatan luar biasa dalam pengabulan doa. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kapan tepatnya waktu tersebut, namun mayoritas merujuk pada waktu setelah Ashar hingga terbenamnya matahari. Momentum ini merupakan puncak dari rangkaian ibadah mingguan yang penuh berkah, di mana seluruh alam semesta seolah-olah mengamini permohonan hamba yang beriman.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا